Petani Hortikultura Butuh Penguatan Manajemen Produksi

Hamparan pertanian hortikultura di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. NUR ILHAM NATSIR/ RADAR BANDUNG

Hamparan pertanian hortikultura di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. NUR ILHAM NATSIR/ RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Manejemen produksi dibutuhkan dalam meningkatkan potensi pertanian hortikultura di Kabupaten Bandung. Hal ini juga bisa mengurangi dampak kerugian petani berbagai komoditi hortikultura saat harga anjlok.


Wilayah Kabupaten Bandung di kenal sebagai salah satu penghasil sayuran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) komoditi sayuran dan buah semusim merupakan produk unggulan hortikultura dengan produksi 8.017 ribu kuintal. Selanjutnya disusul dengan komoditi buah tahunan sebanyak 812 ribu kuintal.

Namun, potensi ini masih memiliki banyak celah permasalahan yang suatu waktu dapat membalikan keadaan dengan kerugian yang fantastis, terutama bagi para petaninya. Seperti yang terjadi saat ini, para petani hortikultura mengeluhkan anjloknya harga jual. Akibatnya, keuntungan yang ada di depan mata menjelma kerugian yang terasa sangat menyesakkan.

Beberapa waktu lalu, sebuah video beredar luas di media sosial memperlihatkan seorang petani di wilayah Rancabali, merusak ribuan tanaman sayuran siap panen miliknya sebab keputusasaan atas anjloknya harga jual. Sementara, petani hortikultura lainnya juga mengeluhkan kenaikan sejumlah kebutuhan produksi menyusul kenaikan harga Bahan Bakar Minyak.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Prof. Dr. Tualar Simarmata menyebut, apa yang saat ini dirasakan para petani hortikultura di Kabupaten Bandung merupakan pertanda masih butuhnya pengembangan manajemen produksi pertanian, khususnya pertanian hortikultura. Sebab sektor tersebut termasuk kategori pertanian yang beresiko tinggi.

“Jadi pertanian hortikultura ini memang masuk kategori resiko tinggi (high risk, high return). Jadi sekalinya untung bisa sangat terasa tapi kalau sedang baik hasil panennya seperti saat ini ya pasti anjlok, yang ada malah buntung,” ujarnya saat dihubungi Radar Bandung, Jumat (23/9).

BACA JUGA: Sambangi Korban Perundungan di Cirebon, Kadisdik Dorong Sekolah Ramah Anak

Menurutnya salah satu penyebab kondisi tersebut terjadi yakni pada tahun ini Indonesia tidak mengalami musim kemarau kering tapi yang adalah kemarau basah. Sehingga hasil panen petani melimpah yang membuat suplai lebih tinggi dengan permintaan pasar.

“Dalam kasus ini, sebenarnya tidak ada yang salah. Tapi semestinya manajemen produksi, terutama komunikasi harus lebih diperhatikan oleh pemerintah sebagai penyedia jasa dan layanan, baik provinsi maupun pemkab. Misalnya, jika wilayah A menanam kubis, wilayah B harusnya menanam komoditi lain. Agar ketika panen hasilnya tidak melebihi permintaan,” tutur Prof. Tualar.

Selain itu, sisi infrastruktur juga disoroti olehnya. Karakteristik hasil panen hortikultura yang mudah rusak atau membusuk harus betul-betul disadari dan dicarikan solusi. Salah satunya adalah inovasi teknologi tempat penyimpanan hasil panen. Hal itu perlu dihadirkan oleh pemerintah daerah dibeberapa wilayah kecamatan penghasil sayuran.

“Memang perlu pemerintah memberi bantuan. Juga penguatan kelembagaan di petaninya perlu ditingkatkan lagi. Saya kira termasuk rekayasa sosial bagaimana mengorganisir para petani atau produsen di bidang hortikultura ini bersama-sama dengan stakeholder supaya tata niaganya lebih efisien. Sehingga kalau misalnya harga turun, mereka kan punya fasilitas penyimpanan jadi paling tidak masih bisa aman beberapa waktu,” jelasnya.

Lebih dari itu, ia juga berharap pemerintah bisa membantu petani dalam menyediakan produk kembangan dari hasil segar. Seperti, produk olahan cabai kemasan baik yang kering hingga yang bubuk. Agar petani tidak hanya mengandalkan penjualan hasil panen segar.

“Selama ini kan umumnya petani kita hanya berhenti pada menjual hasil segar. Masih sangat sedikit yang berfikir sampai produk olahan. Saya rasa itu bisa dibantu juga oleh pemda untuk pelatihan dan pengadaan alat produksinya. Jadi tugas pemerintah selain memfasilitasi juga memperhatikan penguatan manajemennya,” tandas Prof. Tualar.

Sebelumnya pada Rabu (21/9) lalu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung, Tisna Umaran menyebut pihaknya tengah berupaya mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh para petani tersebut. Salah satu yang tengah dirancang adalah rekayasa sosial dan pemangkasan jalur distribusi. Dengan solusi itu, diharapkan petani bisa lebih dekat dengan konsumen.

(sir)

 

Loading...

loading...

Feeds

Term Paper Writer Reviews

If you are looking for review of a writer for your term, there are several sites that offer this type …

Term Paper Writer Reviews

If you are looking for review of a writer for your term, there are several sites that offer this type …