Macan Kumbang Masuki Perkebunan Warga, Aktivis Lingkungan: Indikasi Kerusakan Habitat

MELINTAS: Macan kumbang tertangkap kamera tengah melintasi hutan. FOTO: @Shazzjung/instagram

MELINTAS: Macan kumbang tertangkap kamera tengah melintasi hutan. FOTO: @Shazzjung/instagram

POJOKBANDUNG.com, PANGALENGAN – Aktivis lingkungan menilai fenomena kemunculan Macan Kumbang (Panthera Pardus Melas) di lahan perkebunan warga sebagai indikasi rusaknya habitat satwa liar. Kawasan hutan terus menyempit akibat pembangunan, sementara mangsa mereka habis akibat perburuan.


Fenomena kemunculan Macan Kumbang di wilayah perkebunan dan peternakan warga kembali jadi perbincangan di media sosial. Dalam video yang diterima Radar Bandung pada Sabtu (13/8) lalu, kucing besar berwana hitam legam itu terlihat melintas di kebun milik warga, diduga turun dari kaki Gunung Wayang.

Petugas Pengendali Hutan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah 2 Soreang, Toni Setiana membenarkan hal tersebut. Macan kumbang sempat menampakkan diri memasuki perkebunan warga di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Menurutnya, hal itu merupakan hal sangat mungkin terjadi, mengingat lahan perkebunan warga berdampingan dengan kawasan habitat macan kumbang.

“Itu kejadiannya sekitar 3 atau 4 hari yang lalu. Jadi memang turun ke lahan milik warga, tapi setelah itu langsung kabur, karena hewan itu kalau lihat orang pasti takut. Di wilayah itu, memang masih ada sejumlah macan kumbang karena memang habitatnya dekat situ,” kata Toni melalui pesan singkat, Minggu (14/8).

Dengan adanya kejadian itu, Toni megatakan terus melakukan sosialisasi terhadap para warga untuk tidak menangkap apalagi melukai. Ia juga meminta, agar warga tak usah panik jika melihat macan kumbang menampakkan diri, apalagi masih di sekitar wilayah habitat mereka. Terlebih lagi jika tak menimbulkan ancaman, seperti memakan ternak atau merusak lahan.

“Seperti biasa kita melakukan penyuluhan ke warga supaya macan tersebut tidak diganggu, ditembak, dan diburu,” ucapnya.

BACA JUGA: Pemkab Bandung Hadirkan Pom Mini Minyak Goreng Curah Mudah dan Murah

Kejadian Serupa

Sebelumnya diberitakan, kejadian serupa juga terjadi pada akhir Juli lalu. Seekor macan kumbang didapati tengah berada di area peternakan ayam milik PT Amanda di Kampung Cikaso, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka. Keberadaan hewan yang masih satu spesies dengan macan tutul Jawa itu terabadikan lewat video amatir warga.

Peternakan ayam tersebut berada dekat dengan Kawasan Konservasi Taman Buru (TB) Masigit Kareumbi. Menurut penjaga peternakan, Yayat Hidayat (36), macan yang turun gunung merupakan kejadian yang kerap berulang. Macan kumbang pernah memangsa belasan ayam hingga hewan ternak milik sebuah pesantren di sana. “Ini yang ketiga kalinya datang ke peternakan,” katanya beberapa waktu lalu.

Satwa liar kerap dianggap menganggu dan mengancam ketika berada di peternakan, kebun maupun wilayah dekat permukiman. Namun, hal yang terjadi justru bisa saja sebaliknya.

Seorang anggota tim lapangan Wanadri di Kawasan Konservasi Taman Buru (TB) Masigit Kareumbi, Randi Muhammad menuturkan, peternakan itu setidaknya berada di sekitar tiga titik habitat macan, yakni Kawasan Konservasi Kareumbi, Cinini, dan Kubang. “Kemungkinan wilayah peternakan juga masih berada di kawasan habitat macan itu,” katanya.

Randi berpendapat, bukan macan kumbang yang “mengganggu”, tapi bisa saja karena peternakan tersebut berada sekawasan dengan habitat macan. Dalam amatannya, macan kumbang kerap memangsa hewan lain yang sesuai ukurannya. Macan yang kecil lebih memilih mangsa yang juga kecil. Macan kumbang juga disebut sering mencari makan di banyak tempat. Di habitatnya, mereka sering berebut teritori. “Kalau ada ayam kenapa harus babi hutan,” tuturnya.

Ketika mendapati macan kumbang melintas di peternakan, kebun atau dekat permukiman, ia menyarankan agar masyarakat sekadar mengusirnya, tidak melukai apalagi membunuhnya. “Kalau mati, bisa kena pasal pembunuhan hewan dilindungi,” katanya.

BACA JUGA: Pemkot Bandung Akan Gelar Pameran Produk Koperasi dan UMKM

Kerusakan Habitat

Hasrat eksploitasi manusia untuk menguasai serta meraih banyak hal di dunia, telah mengesampingkan kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Kondisi ini pula yang ditengarai menjadi akar permasalahan terjadinya konflik antar manusia dan hewan. Seperti beberapa waktu belakangan kerap terjadi.

Hal itu diungkapkan oleh Aktivis lingkungan dari Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat, Dedi Kurniawan. Ia enggan menganggap kejadian-kejadian tersebut selaku angin lalu. Ia memandangnya sebagai indikasi adanya sebuah masalah lingkungan yang serius.

Menurutnya, salah satu faktor yang bisa menggiring satwa-satwa liar ke wilayah permukiman adalah rusaknya habitat dan kawasan hutan. Lantas, memicu langkanya makanan dan sumber air bagi satwa liar. Mangsa mereka bisa saja berkurang akibat direbut manusia lewat aktivitas perburuan, sementara kawasan hutan terus menyempit akibat pembangunan.

“Koridor habitat satwa itu sudah terjepit, selain pakan kurang karena perburuan juga kawasan semakin menyempit akibat banyaknya pembangunan,” katanya kepada Radar Bandung, Minggu (14/8).

Di samping upaya-upaya pemulihan dan pelestarian kawasan hutan yang mesti dikerjakan secara serius, kata Dedi, langkah lain yang juga tak kalah penting adalah menggencarkan edukasi kepada masyarakat guna mencegah konflik antara manusia dan satwa. Selayaknya, sesama mahkluk hidup keduanya dapat hidup berdampingan.

“Di Pangalengan macan berhasil dihalau dan masuk kembali ke habitatnya. Masyarakat sudah tampak mulai peduli dan menghindari konflik dengan satwa, ini perlu diapresiasi dan terus ditingkatkan melalui edukasi berkelanjutan,” katanya.

Dedi juga mendorong agar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menggencarkan patroli bersama masyarakat guna memitigasi, memetakan daerah rawan konflik. Dalam upaya konservasi tersebut, pemerintah patut melibatkan peran sipil. Karena menurutnya, pelibatan demikian masih sangat minim.

Ia menegaskan, pemerintah tingkat daerah atau provinsi harus benar-benar mengimplementasikan upaya pelestarian macan kumbang sebagai fauna identitas Jawa Barat, jangan hanya sebatas melestarikannya sebagai patung maupun slogan.

“Meminta KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), dalam hal ini BBKSDA Jawa Barat, membuat strategi dan rencana aksi penyelamatan konservasi macan tutul melibatkan semua,” ungkapnya. (sir)

(sir)

Loading...

loading...

Feeds