Harga Bahan Pokok Melambung, Kelompok Rentan Jadi Sasaran  

MENYIAPKAN: Salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Dadan (45) saat menyiapkan dagangannya. NUR ILHAM NATSIR/RADAR BANDUNG

MENYIAPKAN: Salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Dadan (45) saat menyiapkan dagangannya. NUR ILHAM NATSIR/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Masyarakat dan pedagang kembali dibuat resah dengan melambungnya harga komoditas bahan pokok dan makanan, seperti cabai, bawang merah, tomat, telur hingga terigu. Tak hanya itu, harga gas elpiji tabung 12kg juga ikut melonjak sejak 10 Juli 2022 lalu.


Salah seorang pedagang di Baleendah, Roni (30) mengatakan hampir semua komoditi yang ia jual mengalami kenaikan harga. “Iyeu mah lain naik deui, melonjak kabeh (ini bukan sekdar naik lagi, tapi semuanya melonjak,” ujarnya kepada Radar Bandung saat ditemui, Minggu (17/7).

Bawang merah misalnya, dari harga normal Rp 30.000/kg saat ini melambung hingga Rp 70.000/kg, cabai merah pun kini mencapai harga Rp 120.000/kg dari harga normal Rp 60.000/kg.”Yang paling nggak masuk akal mah terigu, dari harga Rp 120.000/kg, sekarang naik jadi Rp 250.000/kg,” imbuh Roni.

Melonjaknya harga ini memberatkan Roni, pasalnya sudah hampir 3 tahun lamanya penjualan belum kembali normal saat Covid-19 melanda. Sementara saat ini harus kembali berjibaku menghadapi kenaikan harga.

“Dulu sebelum Covid-19, kita bisa untung Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Sekarang mah paling Rp 1.000 sampai Rp 2.000, apalagi harga kayak gini, naik lagi,” tuturnya.

BACA JUGA: Banjir di Musim Kemarau Hantui Warga Baleendah

Tidak jauh beda dengan Roni, sat ditemui Radar Bandung pada 21 Juni lalu. Dadan (45), salah seorang pedagang di Pasar Dayeuhkolot ini juga mengaku keberatan dengan kenaikan harga bahan pokok tersebut. Ia mengatakan kenaikan harga tersebut menyebabkan penjualan kian melesu dengan daya beli masyarakat yang menurun. “Pelanggan juga tidak semuanya punya uang, ya kita kasi ajalah berap-berapa, disesuaiakan saja,” ujarnya muram.

Ia menduga kenaikan harga kepokmas yang dijualnya imbas dari cuaca yang tak menentu yang mengakibatkan gagal panen. Selain itu, ia juga menduga kenaikan harga  seperti Gas elpiji dan BBM juga jadi salah satu penyebab kenaikan harga komoditi yang ia jual.

“Sekarang hampir tiap hari, pembeli yang datang paling cuman belasan tidak terlalu banyak. Sekarang jadinya sering nombok. Tukutnya juga harga belum stabil karena gas juga ikut naik ya,” kata Dadan.

Dadan dan Roni sama-sama mengungkapkan tak tega jika harus menaikkan lagi harga demi keuntungannya, sebab dengan harga saat ini saja pembeli sudah mulai berkurang, serta mereka juga merasa bahwa jualannya adalah kebutuhan pokok sehari-hari.

BACA JUGA: Kandasnya Mimpi Kampung Mural Cimindi Menjadi Malioboronya Cimahi

Loading...

loading...

Feeds

Menjajal Kecanggihan Wuling Air ev

Menjajal Kecanggihan Wuling Air Ev

POJOKBANDUNG.com – Wuling Motors (Wuling) tancap gas dengan mulai me-launching mobil listrik Air ev di pasar global. Indonesia menjadi negara …