Banjir di Musim Kemarau Hantui Warga Baleendah

MERENDAM: Banjir yang merendam pemukiman warga di Kampung Muara, Baleendah, Kabupaten Bandung. NUR ILHAM NATSIR/RADAR BANDUNG.

MERENDAM: Banjir yang merendam pemukiman warga di Kampung Muara, Baleendah, Kabupaten Bandung. NUR ILHAM NATSIR/RADAR BANDUNG.

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH – Banjir kembali melanda beberapa wilayah di Kabupaten Bandung. Hujan yang mengguyur dengan durasi panjang disinyalir menjadi salah satu penyebabnya.


Salah satu warga Kampung Muara, Baleendah, Yayah (45), luapan air mulai menggenangi rumahnya pukul 05.00 WIB ketika ia hendak pergi berbelanja ke Pasar. “Hujannya dari kemarin, nggak besar tapi lama. hasilnya jadi seperti ini, banjir lagi,” ujarnya saat ditemui belum lama ini.

Bagi Yayah, hujan kerap mengundang resah dalam 17 tahun terakhir, baik dengan intensitas tinggi maupun rendah, dengan durasi waktu lama atau sebentar, banjir adalah mimpi buruk. “Sudah 17 tahun hidup dengan banjir. Mau bagaimana lagi, dibiasakan saja,” imbuhnya.

BACA JUGA: Hadirkan Festival Budaya, Upaya Bangkitkan Geliat Pariwisata Kabupaten Bandung

Banjir menahun ini, merupakan air kiriman dari hulu. Dan banjir tak hanya membawa air, melainkan juga sampah-sampah yang menambah pekerjaan rumah saat airnya mulai surut.

“Air banjir ini datangnya dari sungai-sungai yang arah Banjaran, Kalau pintu air dari Pangalengan dibuka pasti di sini banjir besar. Kadang kalau banjir gede, pakaian yang terendam dibuang saja. Kalaupun mau dicuci, nyucinya bagaimana?” tuturnya.

Sementara itu, terkait dengan adanya kolam retensi yang telah dibangun oleh pemerintah pusat melalui pemerintah provinsi Jawa Barat, Yayah mengaku hingga saat ini belum merasakan pengaruh apa-apa.”Pengaruhnya tidak sampai di wilayah sini, hanya yang dekat dengan kolam retensi, dekat kampung Ciputat,” katanya.

Ia menambahkan, sejauh ini Kampung Muara belum dibuatkan saluran pembuangan air banijir yang menuju ke kolam retensi. Terlebih saat ini ia merasa cuaca tak lagi menentu, jadi hujan dan banjir seolah bisa datang kapan pun. Seperti yang terjadi sekerang, di bulan Juli biasanya merupakan musim kemarau yang jarang mendatangkan hujan apalagi banjir.

BACA JUGA: Telkomsel Upgrade Jaringan 3G ke 4G/LTE di Bandung dan Cirebon

Mengenai anomali tersebut, Badan Mateorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada siaran pers yang dikeluarkan pada Sabtu (16/7) lalu, menjelaskan bahwa, hal itu disebabkan oleh aktifnya beberapa fenomena dinamika skal global-regional yang cukup signifikan. Diantaranya, yaitu fenomena La Nina yang pada bulan Juli ini masih aktif.

“Kondisi itu masih turut berpengaruh terhadap penyediaan uap air secara umum di atmosfer Indonesia,” ungkap Deputi Bidang Mateorologi, Guswanto secara tertulis.

Dalam skala regional, terdapat beberapa fenomena gelombang atmosfer yang aktif meningkatakan aktivitas konvektif dan pembentukan awan hujan, yaitu: gelombang Kelvin dan gelombang Rossby yang terjadi pada periode yang sama.

Menurut Guswanto, meskipun saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau, namun dengan fenomena-fenomena tersebut memicu terjadinya dinamika cuaca, salah satunya masih turun hujan disebagian besar wilayah Indonesia.

Adapun prediksi BMKG untuk periode sepekan kedepan yakni 17-23 Juli, Jawa Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat. Oleh karena itu, Guswanto mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan tersebut.

(sir)

Loading...

loading...

Feeds

Menjajal Kecanggihan Wuling Air ev

Menjajal Kecanggihan Wuling Air Ev

POJOKBANDUNG.com – Wuling Motors (Wuling) tancap gas dengan mulai me-launching mobil listrik Air ev di pasar global. Indonesia menjadi negara …