Tanggulangi Penyakit TBC, Desa Cibiru Wetan Anggarakan Rp10 Juta per Tahun dari Dana Desa

POJOKBANDUNG.com, KABUPATEN BANDUNG – Persebaran Penyakit Tuberculosis (TBC) sangat merata di Indonesia. Penanganan dan pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis membutuhkan intervensi kebijakan dari pemerintah secara cepat termasuk dengan memanfaatkan dana desa.


Hal itulah yang mendasari Pemerintah Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung yang terbilang sangat aktif dalam mencegah penyakit TBC di wilayahnya. “Sudah 5 tahun kami melakukan aksi nyata dalam mencegah penyakit TBC dengan membuat program TB Care yang diperkuat dengan SK untuk kader peduli TB,” terang Kepala Desa Cibiru Wetan, Hadian Supriatna, Kamis, 14 Juli 2022.

Berbalik ke tahun 2017, masih di era kepemimpinan Kepala Desa lama Asep Hasan Sadeli (periode 2013-2019), Hadian bercerita, saat itu terdapat beberapa kantong-kantong wilayah di Desa Cibiru Wetan yang temuan kasus TBCnya terbilang tinggi. Pemerintah Desa kemudian memutar otak untuk keluar dari “ancaman” penyakit yang penularannya cukup cepat tersebut. Apalagi disadari, jika angka kematian tertinggi di Indonesia adalah akibat penyakit TBC.

“Hingga pada akhirnya, ada kesepakatan untuk membuat SK Peduli TBC dan itu yang menjadi program rutin yang dijalankan dari tahun ke tahun hingga saat ini,” tambah Hadian.

“Tiap tahun SK kami perbaharui dan tahun ini per Maret 2022,” imbuhnya.

BACA JUGA: Waduh, Kasus Konfirmasi Positif Covid-19 di KBB Meroket Hingga 62 Orang

Dalam SK tersebut memuat tiga keputusan, yakni menetapkan Kader TB Harapan Temukan Obati Sampai Sembuh (Kahartos) TB Care sebagai Inovasi Desa Cibiru Wetan, kedua, mewajibkan semua lembaga kemasyarakatan desa dan lembaga lain desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat bersama warga masyarakat, mendukung dan melaksanakan inovasi-inovasi desa tersebut dengan kesadaran dan kegotongroyongan.

“Yang ketiga, operasional dan implementasi kegiatan inovasi desa tersebut dapat didukung oleh alokasi dana operasional lembaga yang bersumber dari APBDesa Cibiru Wetan,” sebut Hadian.

Dari SK tersebut, Pemerintah Desa kemudian menganggarkan Rp10 juta per tahun untuk operasional Kader Kahartos. “Kami anggarkan hingga Rp10 juta setiap tahun untuk kader-kader tersebut,” sebut Hadian lagi.

Besaran angka Rp10 juta tersebut digunakan sebagai operasional para kader saat turun ke lapangan seperti melakukan screening, pengantaran suspek, pengantaran obat, kunjungan bagi terduga diperkirakan TBC, pertemuan dan kordinasi kader kahartos serta gerakan ketok pintu dan lainnya.

“Bahkan kami siapkan reward lagi untuk kader yang bekerja lebih, misalnya mengumpulkan dahak terbanyak,” ujar Hadian.

Keberadaan kader Kahartos, diakui Hadian, sangat membantu program Desa Cibiru Wetan, khususnya dalam mencegah penyebaran TBC. Pasalnya sejak tahun 2017, jumlah temuan kasus penyakit TB di Cibiru Wetan cenderung stagnan.

Hadian menyebut pada tahun ini Cibiru Wetan diberi target untuk melakukan screening warganya sebanyak 179 orang. Yang sudah berjalan dari Januari hingga Juni sudah 85 orang, atau sudah sekira 50 persen. Dari 85 orang tersebut, 13 orang terduga tb anak dan 24 terduga TB berusia dewasa.

“Sementara untuk pengobatan TB anak saat ini sebanyak 6 orang dan TB dewasa 5 orang serta loss to follow up sebanyak 3 orang,” ungkapnya.

BACA JUGA: Polres Subang Musnahkan 11.788 Botol Miras Ilegal

Tak hanya itu, keberadaan kader Kahartos juga membuat masyarakat Cibiru Wetan lebih peduli tentang kesehatan mereka serta makin sadar untuk hidup sehat.

Terkait kendala yang dihadapi, Hadian sadar bahwa persepsi masyarakat tentang penyakit TB masih sangat sensitif. Pasalnya, masih banyak warga yang menganggap jika TB adalah aib, kemudian penyakit guna-guna sehingga kadang masyarakat tidak menerima kehadiran kader kahartos di lapangan syang menghambat upaya screening.

“Ini kendala utama di lapangan. Sebenarnya sudah biasa dan di mana-mana seperti itu, sehingga kader kahartos melakukan pendekatan secara persuasif,” kata Hadian lagi.

Ketika ditanya soal dukungan terhadap program eliminasi TB 2030, Hadian menegaskan, jika Desa Cibiru Wetan akan berbuat maksimal terkait program nasional. “Sebelum Eliminasi 2030 itu digaungkan kita sudah melakukan lebih awal, apalagi jika sudah digaungkan bahkan dalam bentuk Perpres. Pasti Desa Cibiru Wetan akan berbuat lebih lagi,” tegasnya.

Namun, di sisi lain, Ia mengusulkan, baik kepada pemerintah Kabupaten Bandung maupun Pemmrov Jawa Barat agar memperhatikan Desa Cibiru Wetan sebagai desa percontohan peduli TB. Pasalnya, desa tersebut telah ditunjuk sebagai desa peduli TB di provinsi Jawa Barat. Sehingga fasilitas untuk mendukung program pencegahan di jajaran desa harus dilengkapi.

Hadian merasa, sejak ditunjuk sebagai desa percontohan peduli TB, perhatian pemerintah, baik kabupaten maupun provinsi, itu sama saja. “Selama ini berjalan seperti biasa saja. Sebelum ditunjuk sebagai desa peduli TB maupun setelahnya. Gak ada perubahan perhatian,” katanya.

“Paling tidak, fasilitas di sarana kesehatan bisa dikengkapilah misalnya pengadaan alat untuk mempercepat hasil diagnosa TB sehingga puskesmas kita tidak hanya menjadi tempat transit sampel dahak,” pungkas Hadian.

Loading...

loading...

Feeds

Menjajal Kecanggihan Wuling Air ev

Menjajal Kecanggihan Wuling Air Ev

POJOKBANDUNG.com – Wuling Motors (Wuling) tancap gas dengan mulai me-launching mobil listrik Air ev di pasar global. Indonesia menjadi negara …