Harga Kedelai Tinggi, Pengusaha Tempe di Kota Cimahi Menjerit

Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, Kusnanto mempersiapkan produksi tempe di Kampung Margaluyu Kota cimahi. AGUNG EKO SUTRISNO/RADAR BANDUNG

Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, Kusnanto mempersiapkan produksi tempe di Kampung Margaluyu Kota cimahi. AGUNG EKO SUTRISNO/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI – Pengusaha tempe di Kampung Margaluyu menjerit, Kota Cimahi mengeluh dengan tingginya harga kedelai yang melonjak tinggi.


Ketua Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Kota Cimahi Kusnanto, mengatakan adanya sentra produk olahan tempe kampung Margaluyu Kota Cimahi, membuat dirinya bangga. Namun dibalik rasa bahagianya terselip kesedihan, dimana harga kedelai sedang melonjak tinggi, yang membuat pengusaha tempe kecil harus gulung tikar.

“Sebagai pengusaha tempe dari tahun 1968 di Kota Cimahi, sangat apresiasi adanya Grand Launching sentra olahan tempe. Ternyata tempe bukan jadi lauk pauk saja, namun sebagai pengusaha tempe kita sedang sedih dengan harga kedelai yang mahal, ” Ujar Kusnanto.

BACA JUGA: Ini Deretan Tempat di Bandung yang Wajib Anda Kunjungi Saat Liburan

ia menjelaskan jika naiknya harga kedelai mempengaruhi produksi pengusaha tempe, yang menyebabkan ukuran tempe diperkecil. Baginya hal tersebut adalah upaya pengusaha untuk terus hidup.

“Kita sering mendengar keluhan konsumen, mengenai ukuran tempe dan tahu yang kecil dijual dipasaran. Kita sebagai produsen tempe juga tidak bisa berbuat apa-apa karena harga bahan pokoknya tinggi,” ucapnya.

Harga kedelai hari ini mencapai 12.500 per kilogram, sedangkan harga sebelumnya ada di kisaran 8000 per kilogram. Naiknya harga kedelai menurut kusnanto, mempengaruhi menurunya daya beli konsumen tempe.

“Sekarang harga jual tempe di pasar, ada kisaran 8000 per batang. Hal ini membuat konsumen mengurangi pembelian tempe, padahal harusnya warga bisa mengakses lebih murah,” paparnya.

Sebagai Ketua Kopti Kota Cimahi, Kusnanto berharap pemerintah sigap menanggapi naiknya harga kedelai. Pasalnya hal ini selain mempengaruhi pengusaha tempe, juga mempengaruhi asupan protein warga.

“Bayangkan Tempe dan tahu sebagai komoditas asupan protein yang biasanya murah harus mahal, berkurang juga daya protein warga. belum lagi bagi produsen, beberapa harus gulung tikar,” ucapnya.

BACA JUGA: Komplotan Pembobol ATM Diringkus Polres Cimahi

ia menambahkan banyaknya pengusaha yang gulung tikar, diakibatkan minimnya modal karena harga kedelai yang tidak tergapai pengusaha.

“Untuk pengusaha kecil rumahan yang 20Kg – 40Kg banyak yang gulung tikar, namun untuk partai besar 4 kwintal keatas, masih bisa bertahan. Meski sekarang ada bantuan harga kisaran sekitar 1000 rupiah, harga kedelai masih mahal,” ucap Kusnadi.

Kusnadi berharap pemerintah bisa mengatur harga bahan baku tempe, dengan tidak impor dari luar negeri. Baginya memanfaatkan petani kedelai lokal lebih menguntungkan dibanding impor.

“Harusnya jangan impor mending pake kedelai lokal, karena banyak keuntungannya jika kita pakai kedelai lokal. Pertama bisa membantu petani kedelai kita, kedua jarak yang tidak jauh sehingga kita bisa kontrol kualitas kedelai langsung,” pungkasnya.

(cr3)

Loading...

loading...

Feeds