Pangsa Pasar Industri Fashion Muslim Masih Luas, Deenay Siap Optimalkan Potensi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG- Pasar industri fashion muslim dan hijab di Indonesia masih sangat besar untuk dimaksimalkan. Untuk menjaringnya, pelaku usaha di sektor tersebut harus terus berinovasi dan memperluas wawasan dalam hal desain produk.


Merujuk Merujuk Thomson Reuters, pangsa pasar ekonomi Islam diperkirakan terus tumbuh hingga 3.007 miliar USD pada tahun 2023. Jumlah penduduk muslim dunia yang mencapai 1,8 miliar atau 24 persen dari populasi global, belum lagi populasi generasi muslim milenial sangat mempengaruhi tren fashion muslim ke depan.

Dari sisi potensi, Indonesia merupakan konsumen busana muslim terbesar ketiga di dunia yang menghabiskan sebesar 20 miliar USD atau sekitar Rp 300 triliun. Ini adalah peluang yang sangat besar, apalagi pemerintah menargetkan Indonesia sebagai pusat fashion muslim dunia.

Trini Midiati Yuniar merasakan potensi bisnis fashion muslim tersebut. Melalui brand bernama Deenay, ia sudah bergelut dan merasakan asam garam industri selama 8 tahun terakhir. Melepas karir di perusahaan BUMN pun dirasa setimpal. “Awalnya saya iseng bikin produk di sela kesibukan kerja. Akhirnya, memutuskan resign karena ingin mengembangkan produk sekaligus agar waktu bisa lebih banyak dengan keluarga,” ungkap Trini dalam event ‘Sewindu Best Moment with Deenay’ di Ballroom The Trans Luxury Hotel Bandung, Kamis (25/5).

Produk Deenay lebih berfokus pada segmentasi perempuan. Mereka menyediakan busana untuk perempuan yang bekerja, formal hingga pakaian santai sehari-hari. Corak geometri menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan. Dari sisi design, meski berkiblat pada perkembangan industi di Paris, namun, penentuan bahan, warna dan potongan busana atau hijab disesuaikan dengan karakteristik Indonesia.

“Desain kami lebih ke smart casual, nyaman buat daily, ada yang dinamis dan sporty. Tapi tentu ada diferensiasi. Ketika brand lain sedang fokus ke corak florist, kami tetap geometrik,” kata dia.

“Inspirasi tentu kami lihat pusat industri fashion, katakanlah di Paris, Prancis. Kami sesuaikan saja bahan dan warnanya. Intinya kami punya karakter yang harus dipertahankan di tengah persaingan industri yang dinamis, ada ciri khas,” jelas dia.

Selama 8 tahun terakhir, periode pandemi Covid-19 ia akui merupakan yang tersulit dilewati. Namun, ada beberapa hal yang ia terapkan. Selain mempertahankan ciri khas brand, ia tetap menjaga karyawan dan reseller yang sudah tersebar di hampir seluruh Indonesia.

Loading...

loading...

Feeds