Lima Desa Terjangkit PMK, Distan Gelar Rapat Koordinasi

PETERNAKAN: Penampakan sejumlah sapi limousin di salah satu peternakan di Jalan Cisangkuy, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Kamis (19/5). FOTO: NUR ILHAM NATSIR/ RADAR BABANDUNG

PETERNAKAN: Penampakan sejumlah sapi limousin di salah satu peternakan di Jalan Cisangkuy, Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Kamis (19/5). FOTO: NUR ILHAM NATSIR/ RADAR BABANDUNG

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Lima Desa di Kabupaten Bandung terkonfirmasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Merespon hal tersebut, Pemerintah kabupaten Bandung melalui Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung menggelar Rapat Koordinasi Pengendalian dan Penanggulangan PMK di Kabupaten Bandung, Kamis (19/5).


“Sampai dengan tanggal 18 Mei 2022, sudah ditemukan kasus yang diduga PMK di empat kecamatan di lokasi kantong ternak sapi perah, yang kemungkinan akan menyebar dengan cepat jika tidak segera dilakukan tindakan pengendalian,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung H. Tisna Umaran usai Rakor PMK.

Menurutnya, morbiditas di Tingkat kandang masih cukup rendah, yakni 0.75 persen -2.2 persen. Sehingga inilah ‘golden time’ untuk melakukan Pengendalian, Berdasarkan hasil temuan di lapangan, faktor penyebaran penyakit bukan hanya dari hewan ternak yang didatangkan dari luar daerah, tapi juga hewan yang ada di kabupaten Bandung.

Adapun empat kecamatan yang terkonfirmasi PMK yaitu Kecamatan Kertasari, Desa Taru majaya (sapi perah) dengan morbiditas 0.33 %, Kecamatan Pangalengan Desa Margamekar ( sapi perah) morbitidas 2/19 (2.2%), Kecamatan Pasir jambu, Desa Mekarmaju dan Desa Cibodas ( sapi perah): morbitidas 9/120 (0,75%) dan Kecamatan Cimenyan Desa Mekarmanik (sapi potong).

“masyarakat tidak perlu panik dengan adanya fenomena penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak ini, karena penyakit ini walau disebarkan melalui virus, tapi tidak zoonosis, tidak menyebar kepada manusia. Kemudian tidak perlu khawatir karena daging sembelihan dari hewan yang terkena PMK ini asal diolah dan diproses dengan benar tidak berdampak pada manusia,” tegas Tisna.

BACA JUGA: Harapan Pedagang Ditengah Proses Lelang Stadion GBLA Bandung

Ia mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan beberapa upaya diantaranya, menerbitkan Surat Edaran (SE) ke Kepala Dinas, rakor internal petugas, melaksanakan pengawasan lalu lintas ternak di pasar hewan, RPH dan peternak, pengawasan tindak karantina terhadap hewan masuk yang tanpa memiliki SKKH dan berasal dari daerah tertular/resiko tinggi ( terindikasi) dan melakukan pengobatan terhadap ternak yang sakit/suspect PMK.

Sementara itu dalam menghadapi Hari Raya Kurban, ia menyampaikan pada masyarakat untuk tidak perlu ragu membeli hewan Kurban di daerahnya masing-masing dan bisa disembelih di rumah potong hewan (RPH). Saat ini kabupaten Bandung ada 370 lapak, hewan sapinya kurang lebih ada 32 ribu ekor.

“Kabupaten Bandung sendiri ada sekitar 8 RPH (3 milik pemerintah dan 5 milik swasta), dan untuk yang mau membeli hewan Kurban di kabupaten Bandung agar melihat label sehat pada setiap hewan Kurban yang menandakan hewan tersebut sudah diperiksa dan dinyatakan sehat,” pungkasnya.

(cr1)

BACA JUGA: Pemkab Bandung Barat Siap Gelontorkan Bonus bagi Atlet Penerima Medali Sea Games

Loading...

loading...

Feeds