Longsor Timpa Dua Rumah, DPKP Cimahi Tunggu Assessment

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI- Akibat hujan deras yang mengguyur yang Kota Cimahi, membuat dua rumah mengalami tanah longsor di kawasan kampung Cicekek RT 9/ RW 4, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, pada pukul 17:30 WIB, senin (9/5/2022).


Dua rumah yang terkena dampak tanah longsor milik Oo dan Hasikin, longsor yang terjadi membuat tangki air milik Hasikin rusak. Sedangkan longsor yang terjadi di rumah milik Oo, berpotensi menimbulkan kerusakan akibat timbunan tanah, jika hujan deras tiba.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, telah melakukan assessment dan pemberian bantuan terhadap Oo. Menurut data BPBD luas terdampak sekitar 16 M persegi, kerugian mencapai 250 Juta, dan tidak terjadi korban jiwa.

Tanah longsoran tersebut diakibatkan kontur tanah yang labil, serta drainase yang kurang baik, efek hujan deras di Kota Cimahi pada sore hari.

BACA JUGA: Manfaatkan Momen Lebaran, Seorang Pria Selundupkan Sabu Lewat Makanan

Pemilik rumah terdampak, Nani mengatakan, jika longsor terjadi akibat bangunan milik Ayi Anggara di belakang rumahnya, kurang kokoh saat pembangunan. Sehingga saat terjadi hujan deras, membuat tanahnya longsor.

” Saya khawatir keamanan rumah saya, karena tanah efek dari longsoran tanah mepet rumah saya. Saya tidak memikirkan ganti rugi, namun keamanan rumah saya yang utama,” jelas Nani (10/5).

Plt Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), Ainul Yakin mengatakan, tidak hanya permasalahan yang ada di Cicekek, setiap kejadian tidak bisa diperlakukan sama. Karena ada SOP, dimana penanganan terhadap bencana, ada prosedur yang harus ditempuh sehingga setiap kejadian tidak diperlakukan sama.

“Misal karena kejadian alam, longsor menimpa rumah warga itu harus dibantu. Namun misal, jika ada kejadian bencana alam dikarenakan kesalahan warga, menutup arus drainase sehingga terjadi rumah ambruk. Itu sudah menyalahi pembangunannya kita tidak bantu,” ucapnya (10/5).

Ainul menambahkan, DPKP akan memberikan bantuan melalui rutilahu sekitar 20 juta. Jika longsor yang terjadi akibat bencana alam, bukan karena pelanggaran pembangunan.

“Kita menunggu laporan, apakah bencana yang terjadi termasuk bencana alam atau pelanggaran pembangunan. Kalau tidak ada informasi masuk biasanya dari assessment BPBD, bagaimana kita akan melakukan tindakan,” ucapnya.

Dalam melakukan antisipasi terjadinya tanah longsor, Plt kepala dinas DPKP Ainul Yakin mengatakan selalu melakukan pengawasan beberapa daerah yang rawan terhadap longsor.

“Kita tuh telat berpikir, kita lihat orang Belanda dulu membangun kota dengan perencanaan estimasi bagaimana potensi bencananya. Sekarang ditengah semrawutnya tata kota, serba salah dalam membangun akses yang baik karena berurusan dengan warga,” pungkasnya.

(cr3)

BACA JUGA: Kecelakaan Maut Tol Cipali, Belasan Orang Luka dan Empat Orang Meninggal

Loading...

loading...

Feeds