Wawancara Eksklusif Radar Bogor dengan Kedubes Ukraina (bagian-1): Dubes Ukraina: Ini Kejahatan Kemanusiaan

Wawancara esklusif wartawan  senior Radar Bogor Hazairin Sitepu dengan Duta Besar Ukraina  Vasyl Hamianin

Wawancara esklusif wartawan senior Radar Bogor Hazairin Sitepu dengan Duta Besar Ukraina Vasyl Hamianin

UKRAINA masih percaya diri bisa mengalahkan Rusia dalam perang yang telah berlangsung tiga minggu. Tanpa bantuan NATO sekalipun.


Berikut petikan wawancara esklusif wartawan senior Radar Bogor Hazairin Sitepu dengan Duta Besar Ukraina Vasyl Hamianin yang dimuat secara bersambung.

Bang HS: Perang antara Ukraina dengan Rusia sudah memasuki minggu ketiga. Apa yang bisa Anda ceritakan tentang situasi terkini di Ukraina?

Dubes Ukraina: Hal penting yang semua harus tahu, bahwa ini adalah bentuk penjajahan baru Rusia. Karena tujuan utama Presiden Vladimir Putin adalah untuk menjadikan Ukraina bukan negara yang bebas atau negara merdeka. Saya rasa bahwa semua orang Indonesia tahu apa itu penjajahan dan new kolonialiesme.

Bang HS: Rusia sudah menduduki beberapa kota penting di Ukraina seperti Kherson, Mariupol, dan beberapa kota lain, apakah di kota-kota itu militer Ukraina benar-benar sudah menyerah?

Dubes Ukraina: Informasi (penguasaaan kota di Ukraina) yang disebutkan tadi tidak benar. Di Kharkiv dan Mariupol sekarang tidak menyerah. Hanya tiga kota yang dijajah (dikuasai) saat ini, yakni di bagian Ukraina Selatan. Tiga kota itu adalah Melitopol, Kherson, dan Berdyansk.

Sangat penting untuk dipahami bahwa meskipun dibom setiap hari oleh tentara musuh, tapi warga sipil dan tentara (Ukraina) terus berjuang dan melawan tentara musuh.

Karena kalau kita bicara Kharkiv itu kota besar, dan mereka sangat dekat dengan Rusia. Namun warganya tidak kabur ke Rusia. Padahal kota itu mayoritas menggunakan Bahasa Rusia. Mereka lebih memilih kabur ke Khiev yang jaraknya ribuan kilometer daripada Rusia.

Bang HS: Kami mendapat kabar bahwa Wali Kota Melitopol Ivan Fedorov ditangkap dan dibawa pergi oleh militer Rusia. Konfirmasi Anda?

Dubes Ukraina: Penting diingat, bahwa mereka tidak hanya menangkap wali kota, tapi juga menangkap seorang aktivis bernama Leila dari Kota Kherson. Dia seorang wanita muslim.

Bang HS: Dalam berita-berita televisi dan media sosial, kita melihat serangan-serangan militer Rusia ke target-target di Ukraina sangat masif. Seberapa kuat militer Ukraina mempertahankan tanah airnya?

Dubes Ukraina: Tentara Rusia bukan hanya melawan militer Ukraina. Tapi juga melawan bangsa Ukraina. Hal itu, sama dengan kondisi Indonesia pada tahun 1945, ketika Indonesia melawan penjajah. Seluruh bangsa Indonesia bersatu melawan penjajah. Sulit negara penjajah untuk melawan balik.

Saya tahu betul tentara Rusia dan perkembangannya. Dan bisa saya katakan tentara Ukraina saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi masalahnya bangunan sipil saat ini sedang dihancurkan oleh tentara-tentara Rusia. Termasuk rumah sakit dan bangunan pertahanan lainnya.

Salah satunya yang tidak bisa kami kontrol itu, bom-bom yang ditembakan dari udara oleh Rusia ke kota-kota di Ukraina. Itu yang tidak bisa kami handle saat ini.

Bang HS: Sampai kapan Anda (Ukraina) bisa bertahan dari serangan Rusia?

Dubes Ukraina: Sampai tentara Rusia semuanya terusir dari Ukraina atau mereka mati di Ukraina.

Bang HS: Apakah Ukraina memiliki kemampuan itu?

Dubes Ukraina: Perlu kita ketahui dalam perang ada tiga hal. Pertama: soal teknis. Ukraina telah memiliki senjata baru, teknik baru. Dan kami bisa melawan tentara Rusia dari manapun itu. Dari sisi lain kami juga menerima bantuan senjata dari negara lain.

Kedua: Jumlah orang yang siap berperang. Kami memiliki lima juta orang yang siap berperang. Jumlah ini setara dengan tentara Rusia dan bahkan lebih lagi.

Ketiga: Adalah semangat. Semangat bangsa Ukraina sekarang, seperti halnya semangat bangsa Indonesia (saat memperjuangkan kemerdekaan). Seperti saat momen, ketika Bung Tomo menyampaikan pidatonya pada pertempuran Surabaya 10 November. Semua orang tentunya siap untuk berperang dan siap untuk mati demi Ukraina, demi negaranya sendiri.

Bang HS: Rusia menuding AS mengembangkan senjata biologis di Ukraina. Itu Dikuatkan dengan ditemukannya 30 laboratorim biologis. Apa penjelasan Anda?

Dubes Ukraina: Ini yang ingin saya mau mulai tadi. Orang Indonesia itu harus tahu kebenarannya. Bagaimana detilnya. Sangat penting untuk dipahami bahwa Rusia dengan sistem new kolonoalisme, dibangun di atas kebohongan.

Kalau kita lihat dari apa yang dilakukan Rusia, mereka bilang tidak akan membom permukiman sipil, tidak akan membom rumah sakit. Itu jelas bohong. Faktanya mereka melakukan hal tersebut. Karena mereka tidak mampu melakukan itu (menguasai Ukraina) mereka kemudian membuat kebohongan baru.

Kalau bisa dilihat, Rusia baru berada di Ukraina dua minggu. Sekarang mereka mengklaim telah menemukan senjata-senjata ini (senjata biologis). Kalau kita lihat, para exspert (ahli), jika ingin menemukan sesuatu, mereka membutuhkan waktu berbulan-bulan. Lantas bagaimana bisa Rusia menemukan itu (senjata biologis) hanya dalam waktu dua minggu.

Jadi bisa kita lihat dari kebohongan-kebohongan ini sebenarnya kecil. Namun, dampaknya besar. Mereka itu selalu berbohong. Bisa diambil contoh Duta Besar Rusia yang selalu mengatakan bahwa dia lahir di Kiev (Ukraina). Namun saat kita cek di website, dia lahir di Moskow.

Bang HS: Sudah lebih dari 2,5 juta orang Ukraina mengungsi. Banyak masyarakat sipil dan anak-anak menjadi korban akibat perang (Rusia-Ukraina). Anda punya cara apa untuk segera mengakhiri perang ini?

Dubes Ukraina: Masalahnya ada warga sipil Ukraina, terutama perempuan dan anak-anak yang ingin keluar dari Ukraina agar mereka tidak terkena bom Rusia.

Perlu diingat Ukraina tidak memulai perang. Justru Rusia yang memulai perang. Rusia yang menyerang Ukraina. Dan salah satu cara untuk menghentikan perang ini adalah, Putin (Presiden Rusia) menghentikan serangan ke warga sipil Ukraina.

Perang itu tidak bisa dijustifikasi. Makanya kalau tentara Rusia membunuh warga sipil, ini jelas bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun, Putin (Presiden Rusia) tidak peduli sama sekali. Tidak peduli dengan korban jiwa. Dan hal yang harus dilakukan Rusia adalah menghentikan menyerang Ukraina.

Bang HS: Menurut Anda koridor kemanusiaan ini seberapa sering mesti dilakukan, sehingga bisa terbuka kesempatan yang lebih besar bagi warga sipil Ukraina untuk menyelamatkan diri dari wilayah-wilayah peperangan?

Dubes Ukraina: Yang harus diingat adalah koridor-koridor yang ada saat ini, itu semua menuju ke Rusia. Sementara warga sipil itu tidak mau menuju ke Rusia. Untuk apa mereka ke sana. Sementara untuk kota-kota yang dikepung saat ini, itu dikuasai oleh tank-tank dan tentara Rusia.

Ada empat kota yang saat ini sangat membutuhkan koridor kemanusiaan, yaitu Mariupol, Kharkiv, Sumy dan Chernihiv. Dan di Chernhiv ini, ada sembilan warga negara Indonesia (WNI) di sana.

Yang penting juga koridor ini digunakan untuk mengirim obat-obatan, buah, dan berbagai macam makanan. Karena tempat-tempat ini listriknya dan yang lainnya dimatikan. Mereka tidak menerima informasi sama sekali. (bersambung)

Loading...

loading...

Feeds