Pelonggaran PPKM Berpengaruh pada Peningkatan Kasus DBD di Kab Bandung

FOGGING: Petugas melakukan Fooging atau pengasapan di pemukiman warga, Kamis (7/2). ( Foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

FOGGING: Petugas melakukan Fooging atau pengasapan di pemukiman warga, Kamis (7/2). ( Foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bandung alami peningkatan dalam kurun waktu 3 bulan terakhir. Selain disebabkan cuaca yang tengah memasuki musim penghujan, pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga berpengaruh terhadap peningkatan kasus penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu.


Berdasarkan data, kasus DBD Kabupaten Bandung selama dari Januari sampai Oktober 2021 yaitu 1.553 kasus. Sementara pada 2020 DBD sebanyak 1.228 kasus. Jumlah kematian karena kasus DBD per bulan di Kabupaten Bandung sampai dengan Juli 2021 itu sebanyak 20 orang.

Kasie P2PM Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Agus Kukuh Satiana mengatakan, adanya pelonggaran PPKM membuat mobilitas masyarakat jadi tinggi.

Dalam dua tahun ke belakang atau ketika ada pandemi Covid-19, kata Agus, kasus DBD itu “tiarap”. Hal tersebut dikarenakan, masyarakat banyak melakukan aktivitas di dalam rumah dan rajin melakukan kegiatan bersih-bersih di lingkungannya.

“Ya berpengaruh (pelonggaran PPKM terhadap kasus DBD). Kemarin kan hampir tiarap ya, ketika ada Covid-19, dua tahun yang lalu tiarap nih si DBD, karena orang di rumah semua dan bersih-bersih terus, sekarang sudah abai, naik lagi kasus,” ujar Agus saat dihubungi via telepon, Selasa (30/11/2021).

“Meningkat, sejak tiga bulan yang lalu, pas musim hujan ini, karena memang berkaitan dengan musim hujan, jadinya naik,” sambungnya.

Dikatakan Agus, yang paling banyak terjangkit DBD itu masyarakat dengan rentang usia produktif, yang mobilitasnya tinggi.

“Misal kerja di Kota Bandung, rumah di Kabupaten Bandung. Makanya kalau sekarang ada kasus di Ciwidey, jangan heran, digigitnya bukan di Ciwidey, tapi digigitnya di Kota Bandung di tempat dia bekerja,” tutur Agus.

Kasus DBD yang paling banyak itu terjadi di wilayah dengan jumlah penduduk yang padat. Pihaknya menyebut dengan sebutan daerah endemis yaitu daerah yang selama tiga tahun berturut-turut terdapat kasus DBD.

Adapun upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Agus memaparkan, mulai dari kegiatan Pemberantasan Sarang Desa Nyamuk (PSN), lalu Gerakan Satu Rumah Satu Jumatik (G1R1J) diaktifkan kembali, kemudian jika ditemukan ada kasus DBD maka akan diadakan penyelidikan epidemiologi.

“Penyelidikan epidemiologi ke tempat kasus untuk mengetahui apakah digigitnya di daerah itu atau dimana, kalau bukti-buktinya digigit disitu baru kita mengadakan PSN, setelah PSN baru kita mengadakan fogging focus atau penyemprotan,” papar Agus.

Loading...

loading...

Feeds