Kepala Dinkes Kota Bandung Sebut Angka Stunting Turun Sekitar 1,34 Persen

Kader PKK mengukur tinggi dan berat badan anak di Posyandu Tamansari Atas, Kota Bandung, Selasa (9/11/2021). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Kader PKK mengukur tinggi dan berat badan anak di Posyandu Tamansari Atas, Kota Bandung, Selasa (9/11/2021). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Angka stunting di Kota Bandung turun, meski dalam masa pandemi, Posyandu masih bisa melakukan penimbangan walau dengan segala keterbatasan.


“Jadi selama ini, RW masih bisa melaksanakan penimbangan balita meskipun dalam masa pandemi,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung Ahyani Raksanagara, kepada wartawan Jumat (26/11/2021).

Dengan begitu, bisa didapatkan data bahwa angka stunting di Kota Bandung turun sebanyak 1.999 atau sekitar 1,34 persen. Beberapa hal yang mendorong penurunan angka stunting ini adalah, pemanfaatan dana maksimal, sanitasi diperbaiki dengan ODF, intervensi seperti ASI eksklusif dan pemberian makanan tambahan.

Ahyani mengatakan atas segala upaya penanganan stunting, Kota Bandung mendapatkan apresiasi dari pemerinntah pusat. Karena Setiap tahun Kota Bandung melakukan 8 stunaksi interupsi dalam mengatasi stunting, dan pada point ke 7 harus memberikan laporan progres penanganan stunting.

“Karena adanya konvergensi stunting ini, lalu kota Bandung menjadi lokus,” tambah Ahyani.

Disinggung mengenai ada beberapa kendala dalam melakukan pencatatan data balita di Kota Bandung, Ahyani mengakui hal tersebut. Diantaranya pencatatan data berat badan dan tinggi badan balita.

“Yang namaya pencatatan oleh masyarakat memang mungkin ada kekeliruan. Namun, setelah didata akan dilakukan verifikasi,” tegasnya.

Selain itu, Ahyani juga mengatakan, ada system yang membantu menyatakan apakah seorang banyi dinyatakan stunting atau tidak.

“Jadi setelah dilakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan, akan dimasukkan ke system. Sehingga, nanti system akan menggolongkan balita tergolong stunting atau tidak,” tambahnya.

Sementara itu, Camat Cibiru, Didin Dikayuana mengatakan, di wilayahnya ada beberapa ketidakakuratan dalam mencatat data bayi. Salah stunnya adalah data berat badan bayi, di mana Ketika menimbang berat badan, skala timbangan tidak menunjukan angka nol.

“Kalau begitu, kan kita tidak bisa benar-benar yakin apakah data yang tercantum merupakan data sebenarnya atau bukan,” katanya.

Selain itu, ada juga ketidak akuratan saat mengukur tinggi badan bayi. Dimana mengukur tinggi, Ketika balita dalam keadaan digendong. Sehingga, tidak bisas benar-benar dikurur berapa tingginya.

“Kita juga bingung, sebenarnya siapa sih yang bisa menentukan seorang bayi ini stunting atau tidak,” tambahnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds