Pemkab Bandung Siapkan BTT untuk Penanganan Bencana

Ilustrasi: Sejumlah warga menaiki perahu untuk melintasi banjir. (FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

Ilustrasi: Sejumlah warga menaiki perahu untuk melintasi banjir. (FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG- Pemerintah Kabupaten Bandung akan menggunakan anggaran dari Belanja Tak Terduga (BTT) untuk penanganan bencana.


Diketahui, beberapa hari terakhir sejumlah wilayah Kabupaten Bandung dilanda bencana, seperti banjir di wilayah Dayeuhkolot dan Baleendah, longsor di Pangelengan dan yang terbaru peristiwa banjir bandang di Kecamatan Kertasari.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bandung, Cakra Amiyana mengatakan Pemerintah Kabupaten Bandung sudah menyiapkan pos belanja tak terduga untuk penanganan bencana-bencana yang sifatnya bencana fisik alam.

“Jadi memang sudah kita alokasikan. Penanganan banjir bandang, pak bupati sudah langsung ke lokasi, beliau melakukan tinjauan lapangan,” ujar Cakra saat wawancara di Soreang, Selasa (9/11).

Selain mengalokasikan belanja tak terduga untuk penanganan bencana, kata Cakra, Pemerintah Kabupaten Bandung tentunya juga akan melibatkan komunitas-komunitas pemerhati bencana termasuk Taruna Siaga Bencana (Tagana).

“Ya tentunya kita akan libatkan komunitas pemerhati bencana, disitu juga ada dari Tagana, dan sebagainya,” ungkap Cakra.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung merilis ada 24 kecamatan di Kabupaten Bandung yang masuk dalam daftar rawan terjadi longsor.

Yaitu wilayah Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Kutawaringin, Margaasih, Nagreg, Pacet, Pemeumpeuk, Pangalengan, Pasirjambu, Rancabali, termasuk Soreang  yaitu di Desa Buninagara.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Hendra Hidayat membenarkan daerah yang berada di ketinggian seperti Rancabali dan Pangalengan itu memang rawan terjadi longsor.

Selain itu, adanya alih fungsi lahan juga menjadi penyebab terjadinya longsor.

“Di setiap kecamatan itu hanya beberapa desa, artinya satu kecamatan itu tidak seluruhnya (rawan longsor),” ujar Hendra saat dihubungi Radar Bandung, beberapa waktu yang lalu.

“Pangalengan paling banyak, karena ada 12 desa yang memiliki potensi (longsor),” sambungnya.

Tingkat resiko dari daerah rawan longsor tersebut, ungkap Hendra bervariatif, ada yang memiliki tingkat resiko ringan, sedang hingga berat.

Hendra mengungkapkan, yang perlu diwaspadai karena tingkat kerawanan longsornya tinggi adalah wilayah Rancabali, Pangalengan dan Pasirjambu.

“Kondisi daerah rawan longsor itu beraneka ragam, kita klasifikasikan tidak semua berat, artinya longsoran itu berdasarkan hasil mitigasi kita, yang sudah pernah mengalami longsor itu menjadi data potensi,” pungkas Hendra. (fik)

Loading...

loading...

Feeds

Flyover Simpang Padalarang Resmi Dibuka

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat resmi membuka dan mengaktifkan jalan layang (Flyover) Simpang Padalarang beroperasi. Rencananya Flyover …
54 Warga Positif Covid-19 dari Klaster Pengajian di Cianjur

Kasus Covid-19 di KBB Tinggal 4 Orang

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyisakan 4 orang. Berdasarkan data Satgas Covid-19 …