Badan Geologi Mulai Ekskavasi Fosil Gajah di Waduk Saguling

Penemuan fosil di kawasan waduk Saguling

Penemuan fosil di kawasan waduk Saguling

POJOKBANDUNG.com, CIPONGKOR –  Tim Badan Geologi Bandung mulai melakukan ekskavasi fosil gajah di Pulau Sirtwo Waduk Saguling, Kampung Suramanggala RT 01 RW 01 Desa Baranangsiang, Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).


Proses penggalian fosil tersebut bakal menggandeng beberapa akademsi dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya UI, ITB dan UNPAD.

Namun sebelumnya, pihaknya akan melakukan studi awal selama sepekan. “Kita sudah melakukan studi awal. Rencananya, besok kita mulai ekskavasi,” kata Penyelidik Bumi dari Badan Geologi Bandung, Johan Budi Winarto.

Johan menjelaskan, ekskavasi untuk mengetahui jenis batuan, lapisan tanah, morfologi dan yang lainnya sebagai langkah awal penelitian penemuan fosil pada kawasan tersebut.

“Ini batuannya apa, terus morfologinya apa, jadi kenapa bentuknya seperti ini jelas dulu ini sungai dibendung kemudian sepeti ini. Dulu ini mungkin bukit, lalu erosi sehingga fosil-fosil melimpah muncul,” katanya.

Rencananya, terang Johan, usai pelaksanaan studi awal tersebut bisa dilakukan penelitian lanjutan yang bisa menghabiskan waktu 1 sampai 2 bulan.

“Saya perkirakan perlu sebulan sampai 2 bulan untuk ekskavasi di sini dengan izin dari pemerintah daerah setempat. Ekskavasi pasti kita lakukan, ini studi awal 5 sampai 10 hari di sini ada apa di sini, karena sebenarnya di sini batu pasir terus ditutup batu vulkanik, saya gak tahu sumberdaya dari mana,” paparnya.

Sementara itu, terkait penemuan fosil gajah, Johan mengatakan, membuktikan bahwa gajah pernah hidup di pula Jawa lalu punah pada satu waktu.

Meski begitu, laporan fosil di wilayah Saguling ternyata bukan kali pertama. Badan Geologi telah mencatat laporan fosil  sejak tahun 1970.

“Badan Geologi pernah kerjasama dengan beberapa ahli dari dalam dan luar negeri seperti Belanda dan Australia. Waktu itu kita mengumpulkan fosil yang ditemukan di daerah kawasan sini sebelum ada waduk. Memang sudah ada laporan,” imbuhnya.

Ia menyebut, selain di wilayah Saguling, Badan Geologi juga mencatat laporan adanya fosil di kawasan Cililin dan Cipeundeuy. Namun, penelitian itu terhenti sejak dibangunnya Waduk Saguling tahun 1980.

“Tahun 70 an itu ditemukan juga di Cililin dan Cipeundeuy. Itu terhenti sejak ada bendungan. Saya yakin ini masyarakat menemukan udah lama, tapi terinformasikan setelah ada pemerhati,” paparnya.

Oleh karena itu, Badan Geologi mengusulkan kawasan Sirtwo Island dilindungi lantaran di tempat itu melimpah penemuan fosil binatang verterbrata, mulai dari gajah, sapi, rusa, dan kerbau.

“Kita usulkan untuk dilakukan konservasi, biasanya dilindungi bukan berarti tak boleh dimanfaatkan. Tetap bisa untuk pendidikan, penelitian, dan wisata juga bisa, tergantung dari pemerintah daerah mau diapakan ini, tugas kami hanya meneliti kolaborasi dengan akademisi dari UI , UNPAD dan ITB,” paparnya.

Upaya itu bisa dilakukan jika pemerintah daerah dan pemilik lahan Indonesia Power duduk bersama. Karena penemuan fosil ini langka setelah terakhir dilaporkan 50 tahun lalu.

“Setelah 40-50 tahun baru ada lagi seperti ini dan ini (fosil) sangat melimpah. Jadi kalau bisa daerah sini saya sudah usulkan ke pemerintah agar dikonservasi,” pungkasnya. (kro)

Loading...

loading...

Feeds