Tak Perlu Impor, Menperin Agus Gumiwang: Alat Pertanian Bisa Dibuat IKM Lokal

PERTANIAN : Seorang petani melakukan aktifitasnya di areal persawahan. (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

PERTANIAN : Seorang petani melakukan aktifitasnya di areal persawahan. (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak ketergantungan impor produk dan alat pertanian. Ia meminta alat pertanian sederhana bisa dibuat oleh pelaku Industri Kecil Menengah (IKM).


Kata Agus, alat pertanian sederhana yang dimaksud seperti cangkul dan celurit. Para pelaku industri kecil bisa memanfaatkan Balai Besar Barang dan Bahan Teknik (B4T) dan Balai Besar Logam dan Mesin (BBLM) yang ada di Kota Bandung.

“Cangkul seharusnya bisa dibuat di dalam negeri. Ini semua tidak ada lagi alasan untuk dapatkan alat pertanian dari impor karena bisa dirproduksi dengan teknologi sederhana. Jadi tidak ada alasan impor,” kata Agus saat meninjau B4T dan BBLM, Jumat (8/10/2021).

“Kunci untuk melepas ketergantungan barang impor adalah kemauan. Bila dilihat secara kemampuan dan daya sumber, pelaku industri kecil sudah bisa melakukannya,” sambungnya.

Ketergantungan impor pun berlaku untuk sejumlah produk pertanian. Pemerintah, ia sebut terus meningkatkan produksi pangan dalam negeri. Produk pertanian yang bisa dihasilkan di dalam negeri harus dimaksimalkan. Salah satu kebijakan yang berlaku adalah skema kredit usaha rakyat (KUR).

“Ketahanan pangan ini jadi fokus. Dan program KUR bisa disenergikan dengan IKM sebagai produsen alat pertanian,” sambungnya.

Sorotan mengenai industri pertanian berbanding lurus dengan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengungkap bahwa sektor pertanian hanya tumbuh 0,38 persen dan memberikan sumbangan 0,06 persen pada pertumbuhan ekonomi kuartal II- 2021. Angka ini menurun dari posisi kuartal I -2021 yang sebesar 3,33 persen dan kuartal II- 2020 yang sebesar 2,20 persen

Dalam sektor pertanian subsektor kehutanan dan penebangan Kayu mengalami kontraksi pertumbuhan 4,4 persen disebabkan oleh penurunan produksi kayu gelondongan pada hutan tanaman industri. Tanaman pangan mengalami kontraksi pertumbuhan 8,16 persen.

Faktor pendorong pertumbuhan di sektor pertanian yaitu perikanan tumbuh 9,69 persen disebabkan meningkatnya produksi perikanan budidaya dan peningkatan produksi tangkap karena cuaca mendukung. Peternakan tumbuh 7,07 persen didorong oleh meningkatnya produksi unggas akibat tingginya permintaan di dalam negeri maupun ekspor.

Tanaman hortikultura tumbuh 1,84 persen didorong oleh peningkatan permintaan komoditas sayuran dan buah-buahan baik di dalam maupun di luar negeri. Sedangkan tanaman perkebunan tumbuh 0,33 persen.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds

ITB Gelar Virtual Job Fair 21-27 Oktober 2021

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG-  ITB melalui unit di bawah Direktorat Kemahasiswaan, ITB Career Center kembali mengadakan bursa kerja (job fair). Bursa kerja …