Harga Telur Ayam Anjlok, Peternak Terancam Gulung Tikar

Pedagang telur ayam di Pasar Kosambi, Rus Cahya. Foto : nur fidhiah shabrina/pojokbandung

Pedagang telur ayam di Pasar Kosambi, Rus Cahya. Foto : nur fidhiah shabrina/pojokbandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG- Harga telur ayam di sejumlah daerah dikabarkan tengah merosot. Para peternak pun mengaku resah karena harga jualnya tak sebanding dengan Harga Pokok Produksi (HPP).


Seorang peternak ayam telur yang juga juga aktif di Forum Komunikasi Peternak Ayam Boiler Kota Bandung, Nur Hidayat mengatakan, anjloknya harga telur itu mulai terpantau sejak Agustus yang mencapainya puncaknya pertengahan September lalu.

“Menembus angka Rp 13 ribu/kg. Normalnya, Rp20-24 ribu/kg rata-rata berisi 16 butir sampai 18 butir. Awal Oktober ini sebetulnya sudah lumayan naik dari titik terendah, jadi Rp15 ribu tapi itu masih di bawah harga pokok produksi (HPP),” ungkapnya, Jumat (1/10).

“Kita peternak itu, dengan fluktuasi harga kita biasa, tapi pandemi ini kan lama sehingga kita sudah berdarah-darahnya terlalu lama ini,” imbuhnya.

Menurut Hidayat, selama pandemi daya beli masyarakat dirasa menurun.

Kendati demikian, beberapa waktu lalu para peternak masih tertolong dengan permintaan telur untuk program-program bansos. Namun, kini hal itu diakui sudah tidak terasa.

Dengan begitu, lanjut Hidayat, para peternak kini langsung berhadapan dengan pasar ril. Sayangnya, menurut pengakuan Hidayat, pasar ril ini masih memiliki daya beli yang lemah.

“Waktu pandemi kemarin ayam itu harganya jatuh tapi telur tidak jatuh karena telur menjadi produk untuk bansos jadi pemerintah membeli dalam jumlah besar sehingga peternak tertolong. Kalau suplai tidak ada lonjakan, suplai dari tahun ke tahun relatif terkontrol,” ungkapnya.

Hidayat mengatakan, dalam kondisi ini peternak tak punya banyak pilihan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan, di antaranya mengurangi populasi ayam dengan cara menahan laju masuknya anak ayam (chik in).

“Mau gak mau peternak kecil sekarang mulai gulung tikar itu, tapi sambil mantau kalau nanti kondisi stabil mereka bangkit lagi tapi kalau kayak gini lama, ya, mati permanen kayaknya,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan harga pasar, seperti di Pasar Ujungberung. Dari beberapa pengakuan pedagang, mereka menjual telur rata-rata di harga Rp20 ribu/kg.

Seorang pedagang telur ayam bernama Edy mengatakan, sejak 2 hari lalu harga telur naik dari Rp18 ribu menjadi Rp20 ribu/kg. Sementara harga dari agen, diakui bervariasi.

“Dari agen harganya bervariasi, ada yang 17.500 ada yang 17.800,” ungkapnya. Tak beda jauh dengan pengakuan pendagang lain, Ojak. Ia menjual telur ayam di rentang Rp18-20 ribu/kg.

“Untuk sekarang harga dari agen Rp 18 ribu dan kita menjualnya dengan harga Rp 20 ribu/kg. Kalau kemarin pas kita menjualnya dengan harga Rp 18ribu, kita mendapatkan telur dari agen dengan harga Rp16 ribu/kg,” pungkasnya.

(muh/rifqi-wanda/job)

Loading...

loading...

Feeds