Kabupaten Bandung Waspada Kebakaran Lahan dan Hutan, Disini Lokasinya

MEMADAMKAN : Petugas saat berusaha memadamkan api yang membakar sebuah lahan. (foto: ist)

MEMADAMKAN : Petugas saat berusaha memadamkan api yang membakar sebuah lahan. (foto: ist)

POJOKBADNUNG.com, SOREANG – Saat musim kemarau, Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) dan Penyelamatan Kabupaten Bandung meminta masyarakat untuk waspada kebakaran hutan dan lahan.


Kepala Seksi Pemadaman dan Investigasi Disdamkar dan Penyelamatan Kabupaten Bandung, M Saepuloh mengatakan, yang harus diwaspadai pada saat musim kemarau itu kebakaran hutan dan lahan. Kata Saepuloh, cuaca bisa menjadi faktor penyebab kebakaran.

“Seperti pohon bambu saja bisa terjadi kebakaran, manakala anginnya besar, bambunya kering, bergesekkan lalu timbul api, ya terjadi kebakaran pohon bambu,” ujar Saepuloh kepada Radar Bandung, Kamis (9/9/2021).

Menurut Saepuloh, titik-titik di Kabupaten Bandung yang kerap terjadi kebakaran lahan itu diantaranya Gunung Singa, Gunung Sadu dan Kawah Putih. Dimana ketika pohonnya kering kemudian terkena cuaca panas maka bisa saja kebakaran.

Tak hanya disebabkan oleh faktor cuaca, kebakaran lahan juga bisa disebabkan oleh ulah manusia. Saepuloh mengungkapkan musim kemarau dimanfaatkan oleh para pemilik lahan untuk membersihkan lahan pertanian.

“Kalau dibabat kan repot, mereka cape, butuh tenaga. Jadi, kadang-kadang mereka babat sedikit, lalu bakar, akhirnya tidak terkendali (api-nya),” ungkap Saepuloh.

“Tapi ada juga orang buang puntung sembarangan di semak belukar atau bakar-bakaran. Lalu ada kebakaran yang dilakukan oleh ODGJ, main-main, itu sering kita tangkap tangan,” sambungnya.

Saepuloh mengungkapkan perbedaan penanganan kebakaran gedung dengan kebakaran lahan. Menurutnya, penanganan kebakaran gedung sedikit mudah karena gedung memiliki proteksi kebakaran sehingga ketika terjadi kebakaran, petugas pemadam kebakaran lebih terbantu.

“Nah kalau kebakaran hutan kan kadang-kadang tidak ada orang yang bertanggung jawab terhadap kejadian, karena faktornya bisa dipicu oleh faktor alam, bukan hanya teknis kaya digendung konsleting listrik misalnya,” tutur Saepuloh.

Kepada masyarakat khususnya pemilik lahan, Saepuloh meminta untuk tidak membuka lahan pertanian atau membersihkan rumput liar dengan cara dibakar. Karena hal tersebut akan menjadi pemicu api yang lebih jauh lebih besar kalau tidak terkendali.

“Mohon dijaga, jangan sampai ada tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab, misalnya melempar puntung rokok ke tumpukan sampah, itu bisa jadi pemicu (api),” pungkasnya.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds