Kasus Masjid Ahmadiyah Dibakar, 10 Orang Diamankan Polisi

Masjid Ahmadiyah di kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat diamuk massa. (Istimewa)

Masjid Ahmadiyah di kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat diamuk massa. (Istimewa)

POJOKBANDUNG.com- Polda Kalimantan Barat masih melakukan penyidikan kasus pengerusakan dan pembakaran masjid Ahmadiyah di Kabupaten Sintang.


Sejauh ini, 10 orang telah diamankan sampai dengan Minggu (5/9).

“Kami sudah amankan 10 orang,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Pol Donny Charles Go saat dikonfirmasi, Senin (6/9).

Saat ini 10 orang tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik. Apabila ditemukan minimal 2 alat bukti yang cukup, maka bisa dilakukan penetapan tersangka.

“Kita punya waktu 1×24 jam (untuk menentukan status mereka),” jelas Donny.

Sebelumnya, Masjid Ahmadiyah di kecamatan Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat diamuk massa setelah menggelar ibadah salat Jumat. Video aksi anarkis ini pun tersebar di media sosial.

Dalam video terlihat ratusan orang menggereduk masjid tersebut. Mereka merusak masjid dan bangunan di dekatnya. Tampak pula ada bagian bangunan yang dibakar oleh massa.

Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Pol Donny Charles Go membenarkan adanya peristiwa tersebut. “Benar terjadi peristiwa itu, ada bangunan yg dirusak dan dibakar,” ucapnya saat dihubungi, Jumat (3/9).

Donny menyampaikan, personel gabungan TNI-Polri berjumlah 300 orang dikerahkan ke lokasi kerusuhan. Diperkirakan massa yang melakukan pengerusakan berjumlah 200 orang.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI Junimart Girsang berharap masyarakat tidak terprovokasi dengan peristiwa penyerangan dan pengerusakan tempat ibadah dan gedung milik Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI).

“Kejadian ini tidak boleh menyulut emosi kelompok mana pun. Dengan kata lain, masyarakat di luar Sintang tidak perlu terprovokasi dengan aksi ini. Sebab negara selalu hadir lewat aparat penegak hukum yang tengah menanganinya,” ujarnya dalam siaran persnya, Senin (6/9).

Junimart juga berharap pemerintah kabupaten dan aparat setempat bisa ikut menjaga kondusifitas di Sintang. Ini dilakukan untuk memitigasi adanya tindakan yang tidak diinginkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, peristiwa tersebut bukan konflik antar warga, melainkan aliansi umat di Sintang dengan komunitas atau jamaah Ahmadiyah. Kemudian tidak pula terdapat pembiaran dari pemerintah dan aparat menyangkut penutupan dari rumah ibadah Ahmadiyah tersebut.

“Pemerintah Kabuapaten Sintang, APH dan aliansi umat sesungguhnya hanya menjalankan konsistensi dan konsekuensi Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tahun 2008, yaitu Menteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung. Seingat saya SKB itu menyangkut pelarangan kegiatan Ahmadiyah,” pungkasnya.

Menag Yaqut Cholil Qoumas mengecam kejadian ini. Menurutnya, tindakan main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan dan merupakan pelanggaran hukum.

“Tindakan sekelompok orang yang main hakim sendiri merusak rumah ibadah dan harta benda milik orang lain tidak bisa dibenarkan dan jelas merupakan pelanggaran hukum,” tegas Menag di Jakarta.

(jawapos)

Loading...

loading...

Feeds