Sambut PTM, Pedagang Pasar Baru Minta Ini ke Pemerintah Daerah

Pedagang mencocokan ukuran seragam sekolah untuk pembeli di toko perenglengkapan sekolah, Selasa (20/7/2021). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Pedagang mencocokan ukuran seragam sekolah untuk pembeli di toko perenglengkapan sekolah, Selasa (20/7/2021). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pedagang Pasar Baru senang dengan keputusan pemerintah memberlakukan kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Sebab, pedagang punya harapan kembali mendapat penghasilan dari menjual baju seragam dan peralatan sekolah.


“Kami senang akhirnya pemerintah memutuskan untuk memberlakukan PTM. Karena hampir 2 tahun pedagang perlengkapan sekolah dan seragam tidak mendapatkan penghasilan,” ujar Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B), Iwan Suhermawan.

Iwan mengatakan, baju seragam dan perlengkapan sekolah merupakan komoditaas primadona yang dijual di Pasar Baru. Karena yang berbelanja bukan hanya pembeli, namun juga penjual dari berbagai pasar di Pulau Jawa dan sekitarnya untuk dijual kembali.

“Pembeli kami ada yang dari Lampung dan lainnya, sehingnga yang berbelanja bukan hanya pembeli dari pulau jawa saja,” terang Iwan.

Menurut Iwan, dari 4.200 ruag dagang di Pasar Baru sekitar 100 di antaranya penjual perlengkapan sekolah. 100 ruang dagang penjual sepatu dan sekitar 200 ruang dagang tas baik tas sekolah maupun tas fashion.

Namun, lanjut Iwan dengan adanyak peraturan pengunjung harus menunjukkan kartu vaksin, merupakan kendala tersendiri bagi pengelola apsar baru. Mengingat belum semua warga mendapatkan vaksin.

“Bahkan dari 10 ribu penjual dan pekerja di pasar baru, baru sekitar 2600 rang yang sudah mendapatkan vaksin,” terangnya.

Selain itu, pintu masuk di pasar baru juga banyak sehingga tidak memungkinkan untuk diapsang alat scan barcode di setiap pintu.

“Kami tidak seperti mall yang haya memiliki 1 pintu masuk, kami punya sekitar 30 pintu masuk dan tidak mungkin semua diapsang alat atau petugas untuk mengecek apakah pengunjung sudah mendapatkan vaksin atau belum,” tuturnya.

Setelah pusat perbelanjaan dibuka untuk 50 persen dari jumlah kapasaitas, namun Iwan mengatakan, pengujung Pasar Baru sekitar 5 persen sampai 15 persen. Hal itu lantaran ada ketentuan pengunjung harus sudah mendapatkan vaksin.

“Sebenarnya maksud pemerintah itu baik, ingin meningkatkan daya tahan tubuh masyarakat dengan mewajibkan vaksin. Namun seharusnya pemerintah juga harus instropeksi bahwa mereka juga kesulitan mengadakan vaksin unntuk warganya,” tegas Iwan.

Iwan beranggapan, bahwa menerapkan aturan pengunjung pusat perbelanjaan harus menunjukkan kartu vaksin sangat tidak bijak. Karena tidak seimbang antara peraturan dan kemampuan untnuk meenuhi kebutuhan di lapangan.

“Kami saja, para pedagang dan pegawai ingin divaksin, tapi bingung harus ke mana,” tambahnya.

Iwan mengaku, pihaknya sudah meminta Pemkot Bandung untuk memfasiitasi pemberian vaksin bagi para pedagang. Namun, sampai sekarang masih belum terealisasi.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds