Permintaan Pasar Kurang, Harga Cabai Rawit di Pasar Tradisional Turun Drastis

Pedagang sayuran saat meyiapkan barang dagangan disalah satu Pasar Tradisional, Kamis (7/1/21). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Pedagang sayuran saat meyiapkan barang dagangan disalah satu Pasar Tradisional, Kamis (7/1/21). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH – Harga bahan pokok khususnya cabai rawit dan cabai merah keriting di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi anjlok. Harga komoditas sayuran ini berada di kisaran Rp22.000 per kilogram.


Salah seorang pedagang di Pasar Tagog, Padalarang, Sobur (47) mengatakan, saat ini harga cabai keriting hanya Rp22.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya mencapai Rp28.000 per kilogram.

“Kalau cabai rawit yang biasa Rp15.000 per kilogram malah naik menjadi Rp30.000 per kilogram. Sedangkan cabai hijau masih normal, yaitu Rp14.000,” katanya kepada wartawan.

Sobur menambahkan, dalam sehari ia hanya menyetok sebanyak 2 kilogram. Namun, jika harga normal dirinya bisa menyetok sampai 5 kilogram.

“Saya biasa belanja dari Pasar Caringin, Kota Bandung. Di sana harga dua jenis cabai, seperti keriting dan rawit sudah melambung,” katanya.

Selain cabai, lanjut dia, harga minyak saat ini mengalami kenaikan signifikan, awalnya dikisaran Rp12.000 per liter, namun saat ini berada dikisaran Rp17.000.

“Kita lumayan bingung menjualnya. Kemarin sempat bertahan di harga Rp 15.000, tapi kini sudah naik,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, kondisi pandemi ini sangat berdampak besar pada perekonomian, terutama bagi para pedagang di pasar.

“Saya berharap pemerintah bisa memberikan solusi nyata bagi para pedagang pasar terutama soal harga yang bahan pokok yang melambung,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) KBB, Ricky Riyadi menyebut, berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan per 1 September 2021, posisi harga cabai keriting berada dikisaran harga Rp22.000. Sementara harga cabai biasa berada dikisaran harga Rp28.000.

Padahal, kata dia, harga cabai keriting sebelum anjlok mencapai Rp28.000 dan harga cabai biasa mencapai Rp30.000.

“Dengan anjloknya harga cabai, kemungkinan secara prinsip ekonomi panen sedang melimpah,” katanya.

Menurutnya, untuk menstabilkan harga cabai, termasuk kebutuhan pokok lain, pihaknya akan berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar ada pemerataan harga.

“Kalau untuk kebijakan ini lebih baik diputuskan provinsi. Tapi, sejauh ini stok untuk bahan pokok, seperti cabai ini bisa disebut melimpah,” pungkasnya.

Menanggapi kenaikan harga cabai yang terjadi saat ini, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang Sugiharto mengatakan, harga cabai rawit turun drastis lantaran kurangnya permintaan konsumen. Ia menduga permintaan menurun akibat masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3.

“Karena PPKM, beberapa hotel restoran berkurang permintaan, ini sangat terasa dampaknya,” kata Bambang

Menurut Bambang, siklus harga cabai rawit memang rentan naik turun.

“Cabai rawit merupakan produksi musiman yang cepat rusak sehingga butuh cepat dijual. Oleh sebab itu, kami coba memberikan solusi kepada petani yang merasa rugi akibat merosotnya harga cabai rawit. Salah satu solusinya yakni membeli cabai petani di sejumlah daerah dengan harga yang sama di Jakarta,” tuturnya.

(kro/jpnn)

Loading...

loading...

Feeds