Petugas Lapas Jelekong Bandung Gagalkan Penyeludupan Sabu dalam Kue Kering

Bungkusan plastik yang diduga ganja sintetis (gorila) yang hendak diselundupkan ke Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung.

Bungkusan plastik yang diduga ganja sintetis (gorila) yang hendak diselundupkan ke Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung.

POJOKBANDUNG.com, BALEENDAH- Upaya penyelundupan barang terlarang kembali terjadi di Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung di Jelekong, Kabupaten Bandung.


Kini modusnya adalah barang diduga sabu dan ratusan obat-obatan terlarang itu diselipkan kedalam makanan ringan (snack) jenis kue kering.

Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung, Faozul Ansori mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya pengetatan pengamanan dan juga kerap mengimbau kepada warga binaan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan. Misalnya upaya penyeludupan barang-barang terlarang.

“Kalau ada pelanggaran, kita laporkan kepada pihak yang berwajib, kalau penyelidikan dan tindak lanjut kan kewenangan pihak yang berwajib, kita sekedar menghalau, jangan sampai barang itu masuk,” ujar Faozul saat dihubungi RadarBandung, Rabu (1/9).

Kronologinya adalah pada Selasa (31/8) pukul 11.00 WIB, petugas penggeledahan barang Lapas Narkotika Kelas IIA Bandung menemukan 22 bungkusan plastik yang diduga narkotika jenis sabu, sembilan bungkusan plastik yang diduga ganja sintetis (gorila) dan 300 diduga obat-obatan terlarang jenis Tramadol.

Barang-barang tersebut diselipkan ke dalam makanan ringan jenis kue kering yang dibawa oleh pengantar barang, TN, S dan IK. Ketiganya, diketahui akan menitipkan barang bagi narapidana AF.

Lalu ketiganya diamankan berikut barang bukti diduga narkotika dan obat-obatan terlarang tersebut. Selanjutnya, narapidana AF dipanggil untuk diperiksa. AF mengakui memang hendak dikunjungi oleh TN, S dan IK. Menurut pengakuan AF, untuk makanan ringan yang didalamnya terdapat barang terlarang tersebut adalah milik narapidana JK.

Selanjutnya narapidana JK juga diperiksa dan JK mengakui bahwa makanan ringan yang didalamnya terdapat obat-obatan terlarang dan narkotika adalah miliknya. Makanan ringan tersebut dititipkan kepada  orang tua narapidana AF, yang kemudian diantarkan ke lapas oleh ketiga orang pengantar barang.

Jajaran KPLP dan Admin Kamtib kemudian melaksanakan penggeledahan ruang tahanan dan ditemukan dua buah handphone, masing masing milik narapidana AF dan JK.

Disinggung mengenai handphone yang ditemukan di ruang tahanan, menurut Faozul, kegiatan razia kamar tahanan itu rutin digelar. Pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian jika ditemukan handphone atau barang terlarang lainnya di ruang tahanan.

“Saya serahkan kepada pihak yang berwajib yang punya kewenangan untuk menyelidiki, handphone itu alur ceritanya masuk dari mana. Kalau tahu pasti kami tangkap baik petugas atau siapa yang memasukkan, intinya kami selalu razia,” tutur Faozul.

Bagi warga binaan yang terbukti melanggar tata tertib, misalnya menyimpan handphone di ruang tahanan, maka ada beberapa hak yang akan dicabut. Misalnya tidak bisa mendapatkan remisi atau dipindahkan ke UPT lain. “Kalau kita sering nangkap (menggagalkan penyelundupan), kan tandanya serius,” pungkas Faozul. (fik)

Loading...

loading...

Feeds