Tanggapi Isu Mural di Kota Bandung, Ridwan Kamil: Boleh, Asal…

Pengendara melintas didekat mural di Jalan Laswi, Kota Bandung, Jumat (27/8). Mural tersebut merupakan wujud ekpsresi dari sejumlah seniman serta sebagai media penyampaian kritik sosial kepada pemerintah di tengah pandemi. (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

Pengendara melintas didekat mural di Jalan Laswi, Kota Bandung, Jumat (27/8). Mural tersebut merupakan wujud ekpsresi dari sejumlah seniman serta sebagai media penyampaian kritik sosial kepada pemerintah di tengah pandemi. (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Gubernur Jabar, Ridwan Kamil menanggapi isu mural di Kota Bandung yang tengah ramai dan menjadi perbincangan publik. Menurutnya, mural sebagai seni ruang publik tak bermasalah selama sesuai dengan kearifan lokal dan etika.


Emil sapaan Ridwan Kamil mengaku, dirinya tidak mempermasalahkan mural asal tidak melewati batas. Saat menjadi Wali Kota Bandung, aku Emil, ia rajin memfasilitasi para seniman Bandung untuk menggambar kota dengan mural-mural.

“Soal mural saya kira tradisi seni kota ini saya mah sangat senang. Dulu saat saya wali kota kan memberikan ruang-ruang, tiang Pasopati dimural, di Siliwangi dimural, tidak masalah,” katanya dalam konferensi pers secara virtual, diikuti Radar Bandung, Jumat (27/8/2021).

“Selama memenuhi kearifan lokal, etika yang disepakati, saya kira tidak ada masalah,” ia melanjutkan.

Adapun, mural yang bertema kritik politik disebut masih menjadi perdebatan. Oleh karenanya, para seniman perlu duduk bersama untuk membahas batasan-batasan kearifan lokal dan etika agar dapat dijadikan takaran mural kritik yang baik dan yang tidak baik.

“Memang terjadi perdebatan apakah mural kritik ini boleh atau tidak boleh, saya kira media bisa menarasikan, mewacanakan, mendiskusikan,” katanya.

“Mungkin (bisa didiskusikan), mural dan kritik politik, undang semua seniman sampai ketemu kesepakatannya dimana definisi kritik yang baik atau tidak, saya kira ini masalah kesepakatan budaya. Arahan saya, yuk, kita ngobrol, kita diskusikan, seni ekspresi ruang publik itu batasnya seperti apa. tentu semua ada juga ada batas yang harus disepakati,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Bidang Penegak Hukum (PPHD) Satpol PP Kota Bandung, Idris Kuswendi mengimbau, agar tidak membuat gambar bersifat tendensius.

“Jadi kalau memang mau sosialisasi di tempat yang sesuai, di tempat milik sendiri, bentuknya jangan sampai menimbulkan hal yang bersifat tendensius,” katanya.

Masyarakat, katanya, boleh saja menyampaikan kritik asal tak bersifat menghina atau provokatif.

“Beda kan kritik dengan hal yang berbau provokatif, penghinaan, dan sebagainya kan beda kontennya. Kritik mah boleh saja, tapi kritik yang membangun, yang konstruktif lah destruktif,” pungkasnya.

Diketahui, belum lama ini sempat ramai mural yang menampilkan sosok mengenakan kemeja warna putih mirip Jokowi. Mata sosok dalam mural itu digambarkan tertutup masker dan berpose dengan tangan kanan menyentuh masker.

Mural itu tergambar di dinding jalan jembatan Pasopati, Kota Bandung. Gambar tersebut kemudian dihapus. Pembuat mural itu bahkan dikabarkan tengah diselidiki oleh polisi.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds