Webinar Special HUT RI dan Pramuka Usung Tema Milenial Jabar Tangguh Berbakti tanpa Henti, Indonesia Tumbuh

Atalia Praratya saat mengikuti Webinar Millenial Talks Special HUT RI dan HUT Pramuka ke-60 dengan tema “Milenial Jabar Tangguh Berbakti Tanpa Henti Indonesia Tumbuh”, Rabu (18/7/2021) via Zoom.

Atalia Praratya saat mengikuti Webinar Millenial Talks Special HUT RI dan HUT Pramuka ke-60 dengan tema “Milenial Jabar Tangguh Berbakti Tanpa Henti Indonesia Tumbuh”, Rabu (18/7/2021) via Zoom.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Webinar Millenial Talks Special HUT RI dan HUT Pramuka Ke-60 dengan tema “Milenial Jabar Tangguh Berbakti Tanpa Henti Indonesia Tumbuh” pada Rabu (18/7/2021), via Zoom yang dibuka Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya.


Peserta diikuti lebih dari 500 yang masuk kategori milenial Jawa Barat. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Kwarda Jabar Atalia Praratya.

Ia menjelaskan seorang pemimpin harus bisa membawa gerbongnya ke arah yang lebih baik. Jika generasi milenial sekarang merupakan calon pemimpin mendatang. Namun untuk menjadi seorang pemimpin bukan sesuatu yang mudah.

“Seorang calon pemimpin harus mampu bekerjasama dengan orang lain atau gotong royong, terlebih di negara yang sangat beragam suku bangsa, agama maupun rasnya,” jelasnya.

Oleh karena itu, generasi milenial harus berpegang teguh pada tiga hal yakni connected, confidence dan creative termasuk agama.

“Sebelum menjadi seorang pemimpin, kalian harus mengikut dulu atau menjadi anggota salah satu partai, atau anggota Paskriba, Pramuka, Moka atau organisasi kepemudaan terlebih dahulu untuk belajar menjadi seorang pemimpin,”ujarnya.

Sementara Ketua Komisi I DPRD Jabar, Bedi Budiman menyebutkan, seorang pemimpin harus memegang teguh nasionalisme.

Menurut Bedi, nasionalisme Indonesia itu berakar dari agama, suku bangsa, budaya daerah yang berbeda-beda serta keturunan seperti Arab, Cina, maupun lainnya.

“Secara tidak langsung orang-orang keturunan berkontribusi pada kebudayaan Indonesia sejak jaman dulu. Keberagaman ini kemudian dibingkai secara harmoni oleh Pancasila,” katanya.

Bedi pun menyebutkan jika nasionalisme menjadi bukti sebagai alat meraih atau merebut kemerdekaan dari para penjajah.

Ini sangat berbeda ketika masih masa kerajaan atau primordial, dimana setiap daerah atau kerajaan gigih melawan penjajah namun selalu kandas.

“Namun berbeda ketika masyarakat Indonesia mulai sadar dengan kesatuan dan persatuan, yang diawali dengan berdirinya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda dan sebagainya, sehingga muncul kesadaran faham nasionalisme yang berhasil merebut kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno- Hatta,” paparnya.

Loading...

loading...

Feeds