LIPI Observasi Sumber Mata Air Panas di Ngamprah KBB

POJOKBANDUNG.com, NGAMPRAH– Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meninjau sumber mata air panas, di Desa Cimanggu, Kecamatan Ngamprah, Kab. Bandung Barat (KBB).


Hal tersebut untuk melakukan observasi guna mengetahui asal sumber tiga sumber air panas yang berada di dua RW yaitu RW 02 dan RW 09. Pasalnya, sumber air panas tersebut tak berdekatan dengan gunung api aktif seperti di daerah-daerah lain.

Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI mencoba menyelidiki dari mana sumber air panas tersebut berasal dengan cara mengukur temperatur air, kadar belerang, PH, daya hantar listrik, dan kadar garam.

Peneliti Geoteknologi LIPI, R Fajar Lubis mengatakan hasil observasi menunjukkan bahwa tiga air panas di Desa Cimanggu berasal dari sistem air tanah yang sama. “Air tersebut naik ke permukaan melalui zona lemah patahan Lembang,” katanya.

Ia menambahkan, daerah Ngamprah dan sebagian wilayah Padalarang adalah titik akhir atau ujung sebelah barat Sesar Lembang. Dengan begitu, di ujung patahan yakni daerah Ngamprah, ditemui banyak mata air karena merupakan zona lemah.

“Tiga mata air ini berasal dari sistem air tanah yang sama, keluar dari zona lemah patahan Lembang. Kalau yang terpotong sistem air tanah adalah air panas, yang muncul ke permukaan air panas. Sebaliknya, kalau yang terpotong air normal, yang muncul air biasa,” katanya.

Ia menyebut,  3 titik mata air panas tersebut berasal dari sistem air tanah yang sama didukung oleh adanya kesamaan data temperatur, PH air, kadar garam, dan daya hantar listrik di setiap sumber mata air.

Tiga sumber air panas itu memiliki temperatur 32-34 derajat celsius, PH 7,5-7,6, daya hantar listrik 5640-6260 millisiemens per centimeter (mS/cm), dan kadar garam, 0,02.

“Mengapa ini relatif dingin dibanding air panas Ciater? Karena bisa jadi telah tercampur air hujan dan jauh dari sumber utama. Sumber utamanya di daerah Lembang membentang ke barat Cisarua, Parongpong dan Ngamprah,” paparnya.

Dengan temperatur seperti ini, LIPI menilai air panas tersebut cocok dijadikan tempat wisata pemandian dan berendam. Apalagi untuk terapi dan releksasi warga terdekat. Tinggal didukung jalan, fasilitas di pamandian, serta penataan area.

“Kalau ini mau dimanfaatkan untuk wisata ya bagus. Cuma tinggal daya dukung menuju lokasi saja diperbaiki dan fasilitas lainnya,” pungkasnya. (kro)

Loading...

loading...

Feeds