Kembali Terjadi, Keluarga di Lombok Jemput Paksa Jenazah Pasien Covid-19

Keluarga jemput paksa jenazah pasien Covid-19 di RSUD Praya Lombok Tengah. (ist)

Keluarga jemput paksa jenazah pasien Covid-19 di RSUD Praya Lombok Tengah. (ist)

POJOKBANDUNG.com – Keluarga jemput paksa jenazah pasien Covid-19 kembali terjadi di Lombok Tengah. Tepatnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya.


Pasien Covid-19 berinisial SM, perempuan asal Dusun Karang Daye, Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, dijemput paksa oleh keluarganya.

SM masuk ke IGD RSUD Praya pada 8 Agustus. Ia merupakan pasien rujukan dari Puskesmas Penujak.

Pasien SM kemudian masuk ke ICU pada 10 Agustus dan diagnosa utama terkonfirmasi covid-19 dengan penyakit penyerta atau comorbid DM.

Setelah empat hari dirawat, pasien Covid-19 itu dinyatakan meninggal pada 12 Agustus.

Humas Satgas Covid-19 RSUD Praya, dr Yudha Purnama ketika dikonfirmasi membenarkan bahwa keluarga pasien berinisial SM melakukan penjemputan paksa.

Yudha menceritakan, pada Kamis (12/8) ada dua pasien terpapar covid-19 yang dinyatakan meninggal. Keluarga salah satu pasien menerima penanganan jenazaah sesuai dengan protokol covid-19.

“Yang menerima keluarga pasien berinisal SH perempuan asal Praya. Pasien SH masuk UGD 5 Agustus dan masuk isolasi HCU hari itu juga, diagnosa utama terkonfirmasi covid-19,” ucap Yudha Permana kepada Radar Lombok, Kamis (12/8).

Menurut dr Yudha, hasil Lab RDT Ag pada pasien SH dinyatakan positif pada 4 Agustas dan status swab PCR juga dinyatakan positif pada 7 Agustus.

“SH kemudian dinyatakan meninggal dunia pukul 01.00 WITA pada 12 Agustus. Tapi untuk pasien ini diterima penanganan sesuai prokes,” ujarnya.

Lain halnya dengan pasien SM. Jenazah SM dijemput paksa oleh keluarganya di rumah sakit. Ini bukan pertama kalinya pasien Covid-19 asal Desa Penujak menolak pemulasaran jenazah. Yudha mengatakan, sampai saat ini terhitung sudah empat kali kejadian.

Padahal pihaknya sudah berusaha maksimal untuk memberikan edukasi kepada keluarga pasien agar penanganan dilakukan sesuai protokol kesehatan.

“Untuk daerah yang ini (Desa Penunjak), kami dari nakes di RSUD Praya selalu menyampaikan pada pasien yang meninggal kita edukasi terkait pemulasaran sesuai prokes covid-19. Panduannya ada petunjuk teknis Kementerian Kesehatan dan juga fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI),” terangnya.

Yudha menerangkan, pihaknya selalu berharap kehadiran dari satgas di tingkat desa, bahkan kalau bisa kepala desa bersama dengan polmas turun tangan. Tapi pada kasus penjemputan paksa kali ini, pihak desa maupun polmas tidak hadir.

“Yang hadir tadi adalah dari polres yang membantu keamanan di RSUD Praya. Karena tadi berpotensi ribut, mengingat ada yang sudah menggedor gerbang. Kemudian teriakan yang memprovokasi untuk mengambil paksa,” jelasnya.

“Ini yang kami sayangkan, satgas desa sebenarnya harus hadir dalam kondisi seperti ini dan harus bisa menyuarakan kebijakan yang sama dengan kami,” sesalnya.

Menurutnya, kehadiran perangkat desa sangat penting mengingat penolakan dari keluarga pasien berisiko banyak, baik dari risiko penularan, keamanan, testing masal hingga risiko penanggulangan pandemi covid-19 yang tidak bisa berjalan maksimal.

“Makanya kami mengimbau harus terus dilakukan edukasi oleh satgas, terutama di tingkat desa dan dusun terkait hal ini. Karena penolakan ini sering berasal dari wilayah yang sama,” terangnya.

Terlebih, kejadiannya sudah berulang-ulang sehingga edukasi ini harus berjalan baik di tengah masyarakat. Menurutnya, beberapa keluarga yang hadir langsung merangsek masuk untuk membawa paksa jenazah. Bahkan sampai meneriakan kata-kata yang tidak percaya terhadap covid-19.

“Maka ini yang harus dijelaskan bersama. Jangan sampai ada statemen yang merusak dan membuat hancur semua perawatan di rumah sakit. Tidak diakui perawatan di rumah sakit dan bahkan dilecehkan,” tandas dr Yudha.

(pojoksatu)

Loading...

loading...

Feeds