Jabar Lewati Puncak Kedaruratan Covid-19, BOR RS Kembali 34 Persen

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Kedaruratan Covid-19 di Jabar disebut sudah ‘turun gunung’. Amatan itu misalnya didasarkan pada turunnya tingkat keterisian rumah sakit (BOR) untuk pasien Covid-19 mendekati rekor terendah.


Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil atau Emil menyampaikan, BOR kini berada di angka 34 persen.

Rekor terendah sempat terjadi pada masa Idul Fitri 2020 lalu, yakni 28 persen. Sementara pada Juni lalu, tingkat keterisan paling tinggi menyentuh hingga 91 persen.

Saat itu, banyak pasien yang tidak bisa mendapat perawatan dan tak sedikit pula antrean mengular di area rumah sakit yang menjadi rujukan.

“Karena kedaruratan kita sebenarnya sudah turun. Hari ini, BOR (Bed Occupancy Rate/keterisian tempat tidur) Jabar 34 persen, itu rekor terendah mendekati rekor paling rendah 28 persen saat idul Fitri (tahun 2020). Jadi sudah lewat puncak gunung kedaruratan saat BOR kita 91 persen sekarang sudah turun tinggal sepertiga,” ucapnya, Jumat (13/8).

Emil menegaskan, kondisi ini dapat dijadikan momentum untuk terus mengejar target percepatan vaksinasi.

Selain oleh pemerintah, percepatan vaksinasi terus digencarkan melalui sentra vaksinasi yang dibuat oleh instansi dan pihak swasta. Strategi tersebut dinilai signifikan meningkatkan kuantitas vaksinasi.

“Kita melakukan dengan dua cara, cara pertama memaksimalkan infrastruktur pemerintah Puskesmas, klinik, rumah sakit dan yang kedua mengajak berbagai pihak menyelenggarakan sentra vaksinasi,” imbuhnya.

Pada bulan lalu, vaksinasi per hari di Jabar berada di angka 50 ribu. Saat ini, sudah berada di kisaran angka 150 ribu penyuntikan.

Hanya saja, ia memasang target cakupannya terus ditingkatkan menjadi 400 ribu penyuntikan perhari jika ingin mencapai herd immunity pada Desember tahun ini.

“Nah 400 ribu perhari sudah kami sampaikan ke pemerintah pusat itu syarat kami bisa selesai di bulan Desember, oleh karena itu kami memohon vaksin Jabar harus proporsional dengan jumlah penduduk,” jelasnya.

Emil melanjutkan, dalam konteks upaya percepatan, Jabar membutuhkan 15 juta dosis perbulan.

“Saat kedaruratan sedang turun gunung, kita kebut vaksinasi sampai Desember, sehingga kita berharap di bulan Januari 2022 tidak ada lagi kedaruratan, vaksinasi sudah tercapai dan yang ada adalah adaptasi,” katanya.

“Covid tidak akan hilang dalam hidup kita, dugaan saya. Tapi kita tidak lagi dalam kecemasan dalam skala pandemi, tidak lagi dalam kedaruratan yang membuat kita susah ekonomi,” ia melanjutkan.

Ketua Divisi Percepatan Vaksinasi Covid-19 Jabar, Dedi Supandi menambahkan, vaksinasi akan terus digencarkan dengan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada.

“Ada substitusi perencanaan, pos vaksin dan mobilisasi, ini ada di setiap daerah. Lalu pokja vaksin, yang terus mobile di daerah,” ujar Dedi Supandi.

Bulan Agustus ini, sebagai momentum Kemerdekaan Republik Indonesia, katanya, akan turut dimanfaatkan jadi momentum percepatan vaksinasi.

Ia menyampaikan, pada tanggal 28 Agustus mendatang akan dilaksanakan vaksin serempak di 27 daerah dengan tagline “Merdeka Covid-19”.

“Kami dan gubernur akan menyaksikan secara virtual. Kegiatan ini sekaligus untuk mencapai simulasi 400.000 dosis per hari,” katanya.

Pelajar di Jabar pun akan turut digerak dalam upaya percepatan vaksinasi tersebut. Nantinya, setiap pelajar akan membawa tiga anggota keluarganya untuk divaksin.

“Jadi, bagaimana siswa bisa membawa tiga orang, misalnya orang tua atau kakek dan neneknya, agar upaya percepatan vaksinasi ini dapat terwujud,” pungkasnya. (muh)

Loading...

loading...

Feeds