Tukang Bakso Gowes Tangerang-Wonogiri, Ceritanya Curi Perhatian

Huda Akhsan Nasrulloh.

Huda Akhsan Nasrulloh.

POJOKBANDUNG.com – Seorang pemuda mengayuh sepedanya di sekitar Alun-Alun Giri Krida Bakti, Wonogiri, Selasa (10/8) lalu. Dia bukan bermaksud berolahraga pagi, tetapi baru sampai usai menempuh perjalanan ratusan kilometer.


Namanya Huda Akhsan Nasrulloh. Dia datang dari Tangerang, Banten menuju Giritontro. Menggenjot sepeda.

“Ini mau mampir dulu menengok adik di pondok pesantren,” kata Huda.

Dia lalu melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Al Barru yang terletak di Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri Kota. Huda harus menunggu beberapa saat karena adiknya masih ada kegiatan di pesantren, sehingga sejumlah wartawan memanfaatkan kesempatan itu untuk berbincang dengan Huda.

Dia mengaku berangkat dari Kelurahan Keroncong, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten pada Jumat (6/8/2021) lalu. Di hari kelimanya mengayuh sepeda, dia sampai di Wonogiri.

“Di Tangerang jualan bakso, pakai motor. Ini libur dulu,” kata dia.

Pemuda berusia 22 tahun itu awalnya berencana gowes ke Wonogiri bersama temannya dari Kecamatan Sidoharjo. Namun, rekannya urung melakukan perjalanan dengan sepeda kayuh karena tak mengantongi izin dari keluarganya.

Huda yang sudah mendapatkan restu pun melakukan perjalanan panjang lewat rute pantura. Sejumlah rekannya juga sempat tak percaya dia akan nekat melakukan gowes Tangerang-Giritontro.

“Istirahatnya kalau malam. Pokoknya jam sembilan malam sudah cari tempat buat tidur. Kalau tidak di masjid, ya di rumah teman gowes. Setelah subuh lanjut gowes lagi,” ujarnya.

Selama perjalanan, banyak orang yang menawari Huda naik kendaraan agar tak perlu lelah mengayuh sepedanya. Namun, tawaran itu dia tolak secara halus. Banyak goweser memantau pergerakannya. Maklum, klub pesepeda yang diikutinya di Tangerang memiliki banyak anggota di luar daerah.

Dari Tangerang, pemuda yang kerap disapa Jabrik itu hanya membawa bekal perjalanan secukupnya. Barang yang dibawanya hanya pakaian ganti, handphone beserta charger, jas hujan, ban cadangan, peralatan P3K, dan peralatan perbaikan sepeda yang dimasukkan di beronjong kecil pada bagian kiri dan kanan sepeda gunung merk Federal itu.

Huda mengaku memiliki niat pulang ke Wonogiri dengan ngontel terbersit dua bulan lalu. Sejak saat itu, dia pun menabung uang hasil keliling menjajakan bakso khusus untuk biaya perjalanan. Terkumpul lah uang Rp730 ribu untuk bekal perjalanan. Uang itu di luar tabungannya yang lain.

“Namun, ini masih utuh, malah tambah. Soalnya ada juga teman-teman gowes yang kasih uang buat perjalanan, ada yang beri ban juga. Ketemu tetangga saya di Semarang yang bos bakso juga dikasih sangu,” kata dia sambil tersipu.

Sebenarnya, Huda menjadwalkan dia bisa tiba di rumahnya di Dusun Pucanganom Lor RT 01 RW 07 Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro tepat pada 17 Agustus bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, kakinya malah lebih semangat mengayuh saat semakin dekat dengan rumah.

“Kan memang mau memperingati kemerdekaan sekalian. Namun, sudah enggak sabar juga pengin pulang,” kata dia.

Selama di perjalanan, Huda mengaku tak mendapatkan kendala berarti. Jalan protokol di sejumlah kota memang ditutup, tetapi sepedanya masih bisa melewati sedikit celah di water barrier.

Alas Roban di Kabupaten Batang pun diterabasnya sebelum gelap. Tak ada hujan yang mengguyur tubuhnya. Kendala fisik pun bukan masalah bagi mantan atlet silat dari Persinas Asad yang pernah menyabet juara dua kejurda di Banten beberapa tahun lalu ini.

Krim oles yang dibawanya pun tak terpakai. Doping setiap pagi yang dikonsumsinya adalah madu hitam asli dari hutan Sumatera. Madu itu didapatnya dari sang kakak yang berjualan madu. Ada kisah unik sepeda Federal yang menjadi saksi perjalannya.

Sepeda itu adalah satu-satunya sepeda yang dimiliki Huda. Sebelumnya, dia pernah membeli sepeda merk United seharga Rp 2.600.000 di Tangerang. Namun, baru sebulan sepeda itu hilang dicuri. Takdir mempertemukannya dengan sepeda Federal yang digenjotnya ke Wonogiri.
“Akhir tahun lalu saya beli ini. Saat keliling jualan liat sepeda ndongkrok, bane wes mlethek-mlethek. Dijual empat ratus ribu saya beli. Keluaran 1987, sudah lama,” kata Huda.

Dia pun harus mereparasi sepeda berkelir silver itu. Mulai dari ban hingga setang. Namun, biaya total pembelian sepeda dan reparasi tak sampai sejuta. Maski sepeda lawas, rangkanya masih kokoh dan terbukti kuat melewati jarak 632 kilometer, dari Keroncong Jatiuwung Tangerang, Banten menuju dusunnya.

Lewat aplikasi percakapan Facebook Messenger, Huda mengabarkan kepada awak Radar Solo bahwa dia sudah sampai di rumahnya Selasa siang lalu. Aksi Jabrik mengundang sederet apresiasi. Camat Giritontro Fredy Sasono mengaku bangga dengan tekad warganya yang gowes Tangerang-Wonogiri dalam rangka HUT RI ke-76.

“Kalau tidak ada pandemi sebenarnya pengin melakukan penyambutan. Namun, karena kondisi seperti ini tidak bisa kami gelar,” kata dia.

(jpnn)

Loading...

loading...

Feeds