Jumlah Warna Binaan Terus Bertambah, Rutan Polresta Bandung Overload

SUASANA : Suasana di Mapolresta Bandung, Soreang Kabupaten Bandung. (FT-FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

SUASANA : Suasana di Mapolresta Bandung, Soreang Kabupaten Bandung. (FT-FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Jumlah warga binaan di rumah tahanan (rutan) Polresta Bandung melebihi kapasitas.


Kapolresta Bandung, Kombes Pol Hendra Kurniawan mengakui kapasitas ruang tahanan Polresta Bandung kecil. Sementara jumlah tahanan yang ada justru selalu melebihi kapasitas, bisa 2 sampai 3 kali lipat.

“Ini masalah klasik. Tapi kita tidak bisa menolak masyarakat yang melapor, apabila disertai dengan dua alat bukti yang cukup. Tapi kalau bisa didamaikan, ya damai saja,” ujar Hendra saat ditemui di ruang kerjanya, Soreang, Kamis (11/8/2021).

Berdasarkan data, di rutan Polresta Bandung itu ada 158 tahanan, sementara kapasitasnya hanya untuk 75 orang saja. Menurut Hendra, jika beban sudah sangat berat, maka tahanan yang ada bisa dilimpahkan ke polsek-polsek. Selain itu, lanjut Hendra, kelebihan kapasitas tahanan itu juga disebabkan oleh adanya titipan tahanan dari jaksa maupun lapas.

“Pada saat kita sudah inkrah atau proses sidang sekalipun dititip disini juga, tahanan jaksa itu dititip disini, tahanan lapas juga disini kadang-kadang,” jelas Hendra.

Baca Juga: Kamar Narapidana di Lapas Kelas IIA Banceuy Dirazia, Petugas Temukan Ini

Dalam rangka mengantisipasi jumlah tahanan yang melebihi kapasitas, pihaknya berencana untuk menambah membangun ruangan baru. Upaya lainnya adalah dengan mendahulukan proses mediasi.

“Selama bisa dimediasi kita masukan restorative justice system, artinya pelapor merasa haknya terpenuhi, kemudian si pelaku mengakui kesalahannya, ada penggantian, tidak usah penahanan,” tutur Hendra.

Sementara itu, dengan adanya pandemi Covid-19 maka sejumlah aturan protokol kesehatan diterapkan dalam ruang tahanan.

Baca Juga: Ditemukan Handphone Saat Razia Kamar Narapidana di Lapas Jelekong, Bagaimana Masuknya?

“Kita olahraga rutin, disinfektan, kemudian makanan dipisah, jadi enggak pakai sendok dan piring lagi tapi pakai makanan bungkusan,” ungkap Hendra.

“Pernah disini juga kita tes semua ada 64 orang reaktif, kemudian kita lakukan treatment, yang sehat dipisahkan dikirim ke polsek semua, dilokalisir, tiap hari disinfektan semua, disiplin, kurang lebih 14 hari kemudian di tes, alhamdulillah sehat semua,” pungkas Hendra.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds