Tak Bisa Bertahan, Pengusaha Restoran, Hotel dan Kafe di Bandung Serentak Kibarkan Bendera Putih

MERAPIHKAN: Karyawan hotel sedang merapihkan salah satu kamar. (ist)

MERAPIHKAN: Karyawan hotel sedang merapihkan salah satu kamar. (ist)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Industri usaha kuliner, kafe dan hotel di Kota Bandung kian terpuruk. Para pengusaha ditenggarai sudah tak sanggup bertahan menghadapi Pandemi Covid-19. Bahkan berencana mengibarkan bendera putih.


Ketua Harian Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR), Gan Bonddilie mengatakan, rencananya ada 600 restoran dan 500 hotel akan melakukan pengibaran bendera putih secara serentak di Kota Bandung bahkan Jawa Barat.

“Ini tanda protes pada pemerintah yang seolah tidak peduli. Ini juga merupakan aksi solidaritas, teman-teman kita di Garut sudah melakukan hal yang sama,” ujar Ketua Harian AKAR Gan Bonddilie atau yang biasa disapa Bang BondBond, Rabu, (28/7/2021).

Kata dia, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun ini nyatanya berdampak pada puluhan pengusaha kafe dan restoran di Kota Bandung, khususnya Jabar, bahkan ada juga yang gulung tikar dengan kerugian yang tak sedikit.

Baca Juga: Bantu Penanganan Covid-19, Bupati Bandung Sumbangkan Gajinya

Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) sebagai asosiasi yang menaungi usaha Kafe dan Restoran. Menurutnya, perhatian pemerintah Kota Bandung pada restoran, kafe dan hotel masih sangat kecil, karena selama ini pihaknya tidak pernah diajak berdiskus, terutama soal penerapan PPKM di Bandung.

Kata dia, Perwal PPKM tidak berpihak kepada pengusaha karena secara aturan kafe dan restoran sudah melakukan yang dianjurkan oleh pemerintah, mulai dari protokol kesesehatan yang sangat ketat seperti dibuatkannya tempat cuci tangan, penyediaan handsanitizer, pengecekan suhu tubuh kepada pelanggan dengan sangat baik hingga jarak dan kapasitas yang dibatasi.

Baca Juga: Tak Percaya Covid-19, Keluarga Pasien Ini Minta Nakes Sumpah Talak Tiga

“Sekarang saya balik tanya, apakah warung makan PKL tersebut melakukannya dengan baik? tidak kan? bahkan untuk tempat cuci piring mereka tidak proper, dan juga ada yang masih mencuci dalam satu baskom,” imbuhnya.

Namun kata dia, iu bukan berarti AKAR tidak peduli atau tidak pro terhadap PKL.

“Kami tau mereka juga berjualan untuk mencari makan, cuma aturannya yang kami kritik,” tambahnya.

Baca Juga: Pandemi Covid-19 Membuat Angka Kemiskinan di Indonesia Naik di Atas 10 Persen

Sedangkan dari pemerintah sendiri, sudah menerapkan CHSE bahwa restoran yang menerapkan CHSE lebih bagus, katanya, lebih keren dan hebat karena menerapakan protokol baik kebersihan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan

“Tapi buktinya untuk apa? kalau mendapatkan sertifikat tersebut harus bayar puluhan juta juga, oke ada sebagian dari kita yang digratiskan karena mendapatkannya dari asosiasi sebagai anggota, tetapi tidak ada manfaatnya, untuk apa kita beli alat-alat pencegahan penyebaran covid sampai mengluarkan dana belasan juta, tapi tidak bisa dine in,” paparnya.

Menurutnya, sudah menerapkan standar tersebut yang sesuai dengan CHSE bisa dine-in minimal 50 persen dan CHSE 50 persen dine-in nya 25 persen jadi jelas kegunaannya.

“Perlu diketahui sudah banyak restoran yang berondong-bondong melakukan CHSE, tapi saya rasa tidak ada manfaatnya,” ujarnya.

Baca Juga: Pengusaha Kuliner Corat Coret Fortunernya, ”Minimal Ada Kelonggaranlah PPKM Ini”

Ia menambahkan, untuk pencegahan penyebaran Covid-19 di Kota Bandung, ia dan anggotanya sudah mengikuti dan melakukan vaksinasi. Namun apakah (PKL) sudah melakukan hal yang sama (vaksinasi)?

“Saya rasa (belum). Kami sudah melaksanakan hampir 15.000 karyawan yang sudah divaksin, terakhir kita bekerja sama dengan OJK dan STP NHI. Kita melakukan vaksinasi yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan, Disparbud, Disbudpar, bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia,” paparnya.

“Bukan kita ingin diperlakukan sama, seharusnya apa yang kita lakukan, pemerintah juga peduli, apa iya sekarang pajak dikurangi, tidak, jika ada subsidi yang Rp1,2 juta untuk UMKM atau dari hibah yang lainnya, itu sangat kecil. Karyawan kita yang mendapatkannya bisa dihitung, tidak sampai 5 persen,” pungkasnya.

(arh)

Loading...

loading...

Feeds