Cita-cita Mulia Windy Cantika Peraih Medali Olimpiade Tokyo: Ingin Bangun Masjid

Windy Cantika setelah melakukan angkatan yang sempurna di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: NOC Indonesia

Windy Cantika setelah melakukan angkatan yang sempurna di Olimpiade Tokyo 2020. Foto: NOC Indonesia

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Lifter muda asal Kabupaten Bandung, Windy Cantika Aisah, menorehkan medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 pada kelas 49 kg, cabang olahraga angkat besi, Sabtu (24/7).


Sang Ibu, Siti Aisyah yang juga mantan atlet angkat besi mengatakan seusai pertandingan, Windy Cantika langsung menghubungi keluarganya lewat video call.

Dalam percakapan tersebut, Windy Cantika mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya. Namun percakapan virtual itu harus terpotong karena Windy Cantika mendapatkan telepon dari Menteri Olahraga.

Aisyah mengungkapkan putrinya berniat membangun masjid di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. “Dulu mau Olimpiade 2020, ia begitu lolos, dapat tiket, mudah-mudahan dikasih rezeki bikin masjid,” harapnya.

Windy Cantika merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakak laki-lakinya juga pelatih angkat besi di Kabupaten Bandung Barat dan memiliki pengcab di Bandung Barat.

Aisyah mengungkapkan putrinya dijadwalkan pulang ke Tanah Air pada 29 Juli 2021 dan harus menjalani isolasi mandiri selama 2 minggu.

Ia mengaku terharu atas keberhasilan sang putri yang berhasil meraih medali perunggu dalam ajang olahraga bergengsi internasional tersebut.

Aisyah mengucapkan terima kasih kepada seluruh dukungan dan doa yang diberikan semua pihak untuk putrinya. “Saya ucapkan terima kasih untuk semua dukungan dan doa-doanya, alhamdulillah sudah rezekinya, bisa menyumbangkan perunggu, saya senang sekali, terharu juga,” ujar Aisyah.

Pun demikian dengan ayahnya, Asep Hidayat. Ia menceritakan perjuangan awal putrinya, dimana ia pernah membantu Windy Cantika berlatih angkat besi dengan alat angkat besi yang terbuat dari semen.

“Ini (semen) dibuat tahun 2012 saat usia Cantika 12 tahun, akan disimpan buat kenang-kenangan. Beratnya 2,5 kilogram, 5 kg hingga 10 kilogram,” ujar Asep saat dijumpai di rumahnya di Desa Malasari Kecamatan Cimaung, Minggu (25/7).

Asep mengaku bangga atas perolehan prestasi putrinya. Saat menonton aksi sang putri melalui layar kaca, Asep mengaku grogi sampai bolak-balik dan tidak bisa diam di tempat.

“Saya bangga kepada anak saya, satu-satunya anak perempuan, anak bontot (bungsu), saya sangat senang,” kata Asep.

“Untuk anak saya, perjalanan masih jauh. Ia ditargetkan untuk Olimpiade Paris 2024, mudah-mudahan dia dapat menjaga prestasinya sendiri,” pungkasnya. (fik)

Loading...

loading...

Feeds