Tayang di OTT, Film A Perfect Fit Tampilkan Jalan Cerita Tak Biasa

Potongan adegan menampilkan Saski (Nadya Arina) dan Rio (Refal Hady) pada film 'A Perfect Fit' yang tayang di layanan streaming video, Netflix Indonesia. (ist)

Potongan adegan menampilkan Saski (Nadya Arina) dan Rio (Refal Hady) pada film 'A Perfect Fit' yang tayang di layanan streaming video, Netflix Indonesia. (ist)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Menggabungkan romansa sepasang anak muda dengan budaya daerah, film ‘A Perfect Fit’ tayang di over the top (OTT) atau layanan streaming video, Netflix Indonesia.


Dibintangi Refal Hady, Nadya Arina, dan Giorgino Abraham, A Perfect Fit menampilkan jalan cerita tak biasa karena menyelipkan nilai kebudayaan dan woman empowering di dalamnya.

Film ‘A Perfect Fit’ disutradarai Hadrah Daeng Ratu, sutradara muda berbakat yang dikenal lewat karyanya di film pendek pemenang penghargaan ‘Sabotase’ dan film pemecah rekor muri ‘Makmum’. Hadrah bekerja sama dengan Garin Nugroho sebagai penulis skenario, yang karya-karya estetis dan puitisnya telah membawanya ke berbagai penghargaan lokal dan internasional.

Keduanya pun menghasilkan sebuah kisah cinta yang berlatar di Bali dan terinspirasi dari kisah klasik Cinderella.

“A Perfect Fit merupakan sebuah kisah cinta yang berkaitan dengan dongeng- sesuatu yang kita sering khayalkan tetapi selalu diharapkan menjadi nyata,” kata Hadrah pada konfrensi pers daring.

Berupaya menghadirkan jalan cerita penuh khayal, Hadrah memilih sepatu sebagai analogi dongeng yang diangkat dalam film ini Kata Hadrah, memilih sepatu sama seperti memilih pasangan. Jika merasa nyaman dengan sepatu dan pijakan, maka langkah dan hidup juga akan menjadi nyaman.

“Kisah cintanya beda, kalau biasanya jatuh cinta alasannya dari mata turun ke hati, ini dari kaki naik ke hati. Dalam ‘A Perfect Fit’, tidak ada yang tidak mungkin dalam cinta,” sambung Hadrah.

A Perfect Fit menggabungkan romansa yang ringan dengan budaya dan tradisi Bali yang kuat. Dengan pengambilan gambar yang sebagian besar dilakukan di Bali, penulis Garin Nugroho yang juga merangkap sebagai desainer produksi menyebut, bahwa dia ingin memperkenalkan sisi Bali yang belum banyak dieksplorasi dalam budaya pop sebelumnya.

“Bali menjadi penggabungan antara tradisi, modern, bahkan global dengan gaya hidupnya masing-masing, di mana hal ini menimbulkan banyak peristiwa di A Perfect Fit. Semoga film kami bisa menjadi teman bagi penonton Indonesia,” ujar Garin.

Di film ini juga menampilkan sederet bintang muda berbakat, seperti Nadya Arina, Refal Hady, Giorgino Abraham, Laura Theux, dan Anggika Boisterli. Para pemain muda ini, beradu akting dengan aktor dan aktris kawakan termasuk Christine Hakim, Ayu Laksmi, Mathias Muchus, Unique Priscilla, dan Karina Suwandi.

Nadya Arina menuturkan, di sini dia berperan sebagai Saski, seorang gadis Bali yang lahir dengan budaya Bali yang sangat kental, namun semangatnya di industri fesyen mengharuskannya untuk memiliki pikiran yang terbuka. Karakter Saski disebut sangat sesuai dengan banyak perempuan Indonesia di usia 20an.

“Awalnya saya merasa tertekan karena harus menghidupkan sosok wanita Bali dengan pengaruh budaya yang begitu kuat di kehidupannya, sementara saya sendiri bukan orang Bali. Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk berbicara dengan aksen Bali meskipun awalnya tidak diharuskan, karena menurut saya tidak mungkin wanita seperti Saski berbicara dengan gaya saya,” tutur Nadya.

Agar bisa mendapatkan aksen Bali yang dimaksud, Nadya akhirnya belajar dialek dengan Ayu Laksmi, yang pada film berperan sebagai ibunya. Nadya juga banyak menghubungi teman-temannya di Bali untuk bisa mendalami peran dan karakter sebagai Saski, termasuk cara hidup, budaya, dan percakapan orang Bali.

Sementara itu, Refal Hady berperan sebagai Rio, seorang pembuat sepatu yang sangat menawan dan mencintai profesinya. Mandiri dan berjiwa petualang, namun penyayang dan penuh empati, Rio membawa perspektif baru ke dalam hidup Saski.

Refal mengungkapkan, sebagai pemilik toko sepatu pada film, dia harus paham seluk beluk industri sepatu. Untuk menghayati perannya, Refal mengikuti workshop pembuatan sepatu di Jakarta selama tiga hari dan mempelajari bagaimana cara membuat sepatu dari awal hingga akhir.

“Menurut saya, prosesnya sangat menarik. Selain belajar membuat sepatu, saya juga mencoba untuk benar-benar menyelami dan membedah karakter Rio– dari cara berpikir, berperilaku, hingga cara hidup badan karakter secara keseluruhan,” terangnya.

Namun, Refal melanjutkan, yang paling menantang saat memerankan karakter Rio adalah pengaruh budaya yang sangat kuat. “Kami berusaha sebaik mungkin untuk menghormatinya dan tidak menggambarkan dengan cara yang salah atau menyinggung. Ini adalah proses yang cukup rumit dan saya menikmati mempelajari banyak hal baru tentang tradisi Bali,” ungkap pemain film ‘Galih dan Ratna’ (2017) itu.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds