PPKM Darurat Diperpanjang? Pelaku Usaha Pariwisata Bingung

SUASANA : Suasana penutupan salah satu objek wisata di Kabupaten Bandung. (FOTO-FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

SUASANA : Suasana penutupan salah satu objek wisata di Kabupaten Bandung. (FOTO-FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.id, SOREANG – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat akan diperpanjang hingga enam minggu, untuk menurunkan angka kasus Covid-19.


Menanggapi hal tersebut, Duty Manager Rancaupas, Eko mengaku galau jika ada perpanjangan PPKM darurat tersebut. Disisi lain pihaknya butuh penghasilan namun pihaknya juga mendukung program pemerintah dalam rangka penanganan Covid-19.

“Kalaupun kebijakan itu yang terbaik, enam minggu ditutup tapi nanti kedepannya bakalan lancar, Indonesia sembuh, ya kami siap mendukung,” ujar Eko saat dihubungi RadarBandung, Selasa (13/7/2021).

Selama PPKM darurat, objek wisata Rancaupas ditutup hingga 20 Juli 2021. Eko mengungkapkan, di objek wisata Rancaupas itu terdapat usaha masyarakat sekitar. Jadi adanya pandemi Covid-19 ini tidak hanya menyulitkan perekonomian perusahaan tapi juga masyarakat sekitar.

“Kalau kondisi normal, saat weekday kunjungan diangka 600 sampai 700 orang dan saat weekend diangka 1.500 sampai 2.000 kunjungan. Sebenarnya masih aman, karena kapasitas Rancaupas saat normal itu mencapai 16 ribu,” tutur Eko.

“Selama masa pandemi, kita kan sudah mengurangi kapasitas 50 persen, jadi ketika sudah ada 8 ribu pengunjung, ya sudah kita stop, tapi sampai saat ini kita belum pernah sampai 8 ribu pengunjung, paling banyak sekitar 2.100 sampai 2.200 pengunjung,” sambungnya.

Dalam rangka efesiensi keuangan, pihaknya menerapkan sistem shifting kepada karyawan. Kata Eko, hingga saat ini belum ada karyawan yang diberhentikan.

“Kita prioritaskan karyawan yang domisili di Ciwidey, melakukan penataan area, perbaikan fasilitas, mengecek kelengkapan prokes. Khusus karyawan yang dari luar Ciwidey nanti saat tanggal 21 Juli boleh buka, jadi mereka bergantian. Saat kondisi normal, satu orang bekerja selama 20 hari, sekarang kita bikin 10 hari,” papar Eko.

Sementara itu, GM Grand Sunshine Resort and Convention, Darmawan mengatakan, sebaiknya kebijakan tersebut dipertimbangkan ulang. Menurutnya, industri harus tetap produktif dan jika ada pembatasan-pembatasan lagi maka tidak bisa bertahan.

“Tentu pemkab harus memperkuat pengawasan melekat terkait penerapan disiplin protokol kesehatan di masing-masing instansi dan korporasi semua pelaku usaha jasa perhotelan dan wisata,” ujar Darmawan saat dihubungi via telepon, Selasa (13/7/2021).

Kata Darmawan, kapasitas hotelnya itu mencapai 127 kamar. Sebelum adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, tingkat okupansi bisa mencapai angka 55 persen sampai 60 persen per hari namun kini tingkat huniannya hanya lima sampai sepuluh persen.

“Tersisa beberapa yang long stay. Total ada 88 karyawan, PHK tidak ada sementara, kita siasati dengan rolling, jurus bertahan sama seperti waktu tahun lalu,” tuturnya.

Antisipasi yang dilakukan untuk mengatasi masalah penurunan jumlah pengunjung, kata Darmawan, adalah bekerja sama dengan aplikasi pesan antar makanan.

“Ya kita harus alih strategi, kita harus jemput bola, online travel agennya tetap kita jalankan, untuk korporasi tetap kita gencar. Satu lagi, karena tidak ada meeting, jadi kita harus isi restoran ini dengan beberapa strategi seperti kita daftarkan ke platform digital,” tutur Darmawan.

Restoran di Hotel Grand Sunshine, kata Darmawan, memiliki sejumlah makanan top seller. Dari mulai makanan internasional, Indonesia, hingga makanan sunda.

“Selama tiga minggu ini kita buka semacam promosi lowest price ever, all food order. Kepada masyarakat yang ada di Soreang khususnya, gunakan kesempatan ini dapatkan diskon paling rendah. Semua dengan take away dan food delivery order,” pungkas Darmawan.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds