Pasien Covid-19 yang Dirawat di RSHS Didominasi Usia Muda, Kok Bisa?

ILUSTRASI

ILUSTRASI

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tingkat keterisian ruang perawatan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung diakui masih tinggi.


Peningkatan kasus masih terjadi dalam rentang 2 bulan terakhir ini. Di samping itu, kasus kematian pasien Covid-19 di RSHS pun melonjak 2 kali lipat dari sebelumnya.

Plt. Direktur Utama RSHS dr. Irayanti menyampaikan, peningkatan keterisian tersebut terjadi untuk ruang ICU maupun ruang isolasi biasa.

Peningkatan keterisian untuk ruang ICU mencapai 30 persen, sementara peningkatan lebih tinggi terjadi untuk ruang isolasi biasa yakni lebih dari 50 persen.

“Kita melihat bahwa memang pada bulan Juni hingga bulan Juli ini terjadi peningkatan pasien covid ini yang ke RSHS,” katanya, Jumat (9/7).

Irayanti mengakui, peningkatan pasien Covid-19 pada dua bulan terakhir ini lebih banyak daripada masa peningkatan sebelumnya yang terjadi Januari lalu.

RSHS kini kembali menambah tempat tidur untuk pasien Covid-19, secara keseluruhan penambahan untuk ruang ICU maupun isolasi biasa sudah mencapai 321 tempat tidur.

“Kita sempat menurunkan jumlah tempat tidur untuk pasien covid, tapi karena seiring dengan peningkatan kasus kita tentu lebih menambah lagi dibanding saat peningkatan di bulan Januari lalu,” katanya.

Adapun, Irayanti menyampaikan, pasien yang dirawat di RSHS didominasi usia muda-dewasa.

Menurutnya, hal ini dapat dipicu karena usia produktif tersebut lebih banyak beraktivitas di luar, misalnya dibandingkan dengan usia anak.

“Yang dirawat itu memang ada anak. Paling banyak itu memang dewasa muda. Karena keterpaparan terhadap orang yang masih produktif ini tinggi, mereka lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah,” jelasnya.

Sementara itu, terkait peningkatan kasus kemarin di RSHS, Irayanti menilai bahwa itu terjadi sebab RSHS kini menjadi rujukan bagi pasien kritis. Karenanya, kasus kematian diakui rentan.

Lebih dari itu, kenaikan kasus kematian ini tidak hanya terjadi di tingkat Provinsi, katanya, juga secara nasional

“Jika melihat secara nasional memang di mana-mana tingkat kematian itu meningkat, di RSHS sendiri terjadi peningkatan kasus kematian, lebih kurang dua kali lipat dari biasa. Kita tahu bahwa RSHS adalah rujukan untuk pasien yang kondisi merah dan kritis ini yang menyebabkan terjadi peningkatan kasus kematian,” ungkapnya.

Irayanti melanjutkan, tantangan lain yang juga tengah dihadapi RSHS yakni terkait jumlah tenaga kesehatan. Disampaikan, sejauh ini masih terdapat sekitar 200 tenaga kesehatan di RSHS yang terpapar Covid-19. Sebagian banyak melakukan isolasi mandiri, lainnya dirawat.

Kondisi ini mengakibatkan terjadinya pengurangan jumlah tenaga kesehatan. Oleh karenanya, Irayanti mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa langkah untuk mendatangkan tenaga tambahan.

Di antaranya, mengajukan relawan tenaga kesehatan tambahan kepada Kementerian Kesehatan, hingga tenaga kontrak.

“Kita sudah melakukan screening massal ke seluruh nakes (tenaga kesehatan) kita. Sekarang memang terjadi peningkatan dari bulan Mei, lebih kurang ada sekitar 200 dari total 3.000 tenaga kesehatan yang ada sini (terpapar Covid-19). Ada yang dirawat, ada yang isoman. Lebih banyak yang isoman,” katanya.

“Karena memang terjadi peningkatan pasien, kemudian tenaga kesehatan juga banyak yang terpapar tentunya kita harus melakukan penambahan. Pertama, penambahan relawan kita minta ke Kementerian Kesehatan untuk menambah relawan dan sudah disetujui. Kedua, tentu karena ada pengalihan ruangan dari non-covid menjadi covid kita lakukan optimalisasi pada tenaga yang dialihkan tersebut, kemudian kita juga mengontrak tenaga yang diperlukan,” pungkasnya.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds