Jelang Idul Adha, Harga Kepokmas Mulai Merangkak Naik di KBB

Ilustrasi: Pedagang daging ayam potong di pasar Tagog Padalarang KBB, Foto: Dok. Radar Bandung

Ilustrasi: Pedagang daging ayam potong di pasar Tagog Padalarang KBB, Foto: Dok. Radar Bandung

POJOKBANDUNG.com, PADALARANG – Menjelang Hari Raya Iduladha 1442 Hijriah, sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat (Kepokmas) di Kabupaten Bandung Barat mulai merangkak naik.


Pantauan di Pasar Curug Agung dan Pasar Tagog Padalarang beberapa komoditi yang mengalami kenaikan diantaranya daging ayam, dari Rp26 ribu per kilogram kini mencapai Rp30 ribu. Harga minyak goreng menyentuh Rp14 ribu.

Harga awal cabai rawit dari Rp 40.000 per kilogram menjadi Rp 55.000 per kilo. Bawang merah dari semula Rp 20.000 menjadi Rp 28.000.

Penjual daging ayam Pasar Tagog, Dadang (40) mengatakan harga daging naik dari sejak 4 hari lalu. Kondisi itu memang lumrah terjadi apalagi menjelang hari raya.

“Iya mulai naik, daging ayam memang lumrah naik apalagi kalau mau hari raya,” ungkapnya saat ditemui, Jumat (9/7).

Dalam sehari, Dadang biasa menyediakan daging satu setengah kwintal untuk dijual. Beberapa pekan terakhir, terjadi penurunan pembelian disebabkan pemberlakuan PPKM Darurat.

“Harga naik, menjelang Iduladha tapi pembeli makin menurun. Mungkin akibat pandemi Covid-19 dan PPKM. Hajatan juga dilarang jadi beli daging menurun,” paparnya.

Sementara penjual sayur di Pasar Curug Agung, Ade (60) mengatakan kenaikan kenaikan harga mulai terasa naik pada sepekan terakhir. Akibat kenaikan ini tak jarang banyak pelanggan mengeluh karena terjadi di tengah Pandemik Covid-19.

“Kenaikan itu terjadi sudah dari 1 minggu. Saya belanja kebutuhan pokok ini dari pasar Caringin, ya menyesuaikan dari sana. Tidak sedikit konsumen yang mengeluh dengan kenaikan itu, terlebih saat ini lagi Pandemik Covid-19,” jelasnya.

Ade berharap, pemerintah bisa mengendalikan harga. Pasalnya, kenaikan ditengah pandemik berdampak pula pada sulit terjual barang dagangan miliknya.

“Banyak dagangan yang lama laku, karena masyarakat yang biasa belanja banyak untuk hajatan sekarang tidak ada, paling yang belanja orang-orang yang berjualan warung dirumahnya dan itupun sedikit,” pungkasnya.

(kro)

Loading...

loading...

Feeds