Seniman Donni Arifianto Gelar Pameran Tunggal, Karya Luksisnya Ungkapkan Realitas Keseharian

KARYA SENI: Salah satu karya Donni Arifianto 
pada pameran tunggal Donni Arifianto yang berjudul 'Tumpang Tindih' di Galeri Orbital Dago, Jalan Rancakendal no 7, Cigadung, 15 Juni hingga 15 Juli 2021. (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

KARYA SENI: Salah satu karya Donni Arifianto pada pameran tunggal Donni Arifianto yang berjudul 'Tumpang Tindih' di Galeri Orbital Dago, Jalan Rancakendal no 7, Cigadung, 15 Juni hingga 15 Juli 2021. (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Terinspirasi dari tulisan-tulisan atau jargon yang biasa muncul di media sosial, seniman Donni Arifianto menggelar pameran seni tunggal.


Dalam tajuk ‘Tumpang Tindih’, pameran berlangsung di Galeri Orbital Dago, Jalan Rancakendal no 7, Cigadung, 15 Juni hingga 15 Juli 2021.

Pameran ‘Tumpang Tindih’ menggambarkan penuangan berbagai ekspresi personal dalam bidang kanvas. Mulai dari munculnya teks-teks syair lagu, jargon-jargon maupun ungkapan keseharian dan media sosial, hingga citraan periklanan, kartun dan ilustrasi dan budaya populer lain sebagainya.

Dituangkan semua itu ke dalam satu bidang kanvas yang dilukis dan beberapa ditempatkan menjadi kesatuan yang serba paradoks, tak beraturan, hanya bidang kanvas dan olahan elemen rupa yang membatasinya. Beberapa juga dituangkan di atas rangkaian benda kursi kayu yang telah digubahnya.

Kurator Rifky ‘Goro’ Effendy menuturkan, sekilas karya-karya Donni tampak seperti coretan-coretan di dinding kota atau graffiti, yang seringkali menampilkan ekspresi suara-suara bawah masyarakat. Tetapi kemudian saat ini banyak juga menampilkan sisi utama visual.

“Dalam karya-karya Donni, ungkapan-ungkapan itu bercampur, tumpang tindih dengan berbagai nilai yang ada di kesehariannya, termasuk teks-teks resep makanan, citraan produk-produk kuliner, merek-merek global, dunia seni dan lain sebagainya,” ungkap Rifky pada catatan kuratorial.

Menurut Rifky, karya-karya Donni ini menjadi wahana bagi segala ungkapan berbagai hal dalam kesehariannya, tanpa harus dipilah-pilah sebagai suatu disiplin yang kaku.

“Karya-karya Donni Arifianto menyiratkan suatu kondisi individu sekarang, di mana berbagai sumber nilai-nilai dari berbagai realitas hari-hari ini terserap ke dalam diri yang kadang tak terkendali,” sambungnya.

Sesuai judulnya, bertumpang tindih antara yang nurani, politis, kritis, kapitalis, sosial dan lain sebagainya. Menjadi menggumpal dalam benak dan bisa jadi menjadi bagian identitas masyarakat kita sekarang.

Donni Arifianto lulus dari program Seni Rupa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tahun 2009. Pria kelahiran Bandung, 22 November 1985 ini sejak mahasiswa banyak terlibat dalam berbagai program pameran di Rumah Proses-Bandung yang diasuh oleh seniman senior Bandung, Rudi ST Darma atau biasa dipanggil Uday.

Lalu, Donni vakum dari dunia kesenian-rupa dan terjun ke bidang kuliner dan membuka kedai kopi dengan nama Abraham and Smith, tahun 2016 bersama temannya. Kedainya berlokasi di Gudang Selatan, suatu lokasi pergudangan tua yang menjadi pusat kreatif anak muda Bandung. Tahun 2018, Donni membuka cabang kedainya yang berlokasi di gudang tua di Jalan Tamblong yang juga menjadi studionya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds