Kunci Pemulihan Ekonomi Adalah Disiplin Terapkan Prokes

MENGUNJUNGI : Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan saat mengunjungi salah satu pedagang ayam potong di Pasar Soreang. (FOTO: FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

MENGUNJUNGI : Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan saat mengunjungi salah satu pedagang ayam potong di Pasar Soreang. (FOTO: FIKRIYA ZULFAH/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Upaya menekan penyebaran Covid-19 dinilai menjadi kunci utama pemulihan ekonomi di Kabupaten Bandung.


Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan mengatakan, penurunan daya beli masyarakat membuat para pedagang mengeluh. Sebab jumlah pembeli yang berkurang mengakibatkan penghasilan jadi menurun. Meski tengah menghadapi situasi yang sulit, Sahrul melihat para pedagang tetap memiliki harapan yang kuat.

“Solusi yang diberikan oleh pemerintah saat ini, ya bagaimana Covid-19 bisa tekan sebaik mungkin, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seperti semula,” ujar Sahrul di Soreang, Rabu (7/7/2021).

Kata Sahrul, pemerintah telah mengalokasikan sejumlah anggaran untuk pengadaan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak pandemi Covid 19. Menurut Sahrul, dalam kondisi pandemi Covid-19 dan ditengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, yang harus terus dilakukan adalah saling mengingatkan dalam melaksanakan protokol kesehatan (prokes).

“Kesadaran dari masyarakatnya (dalam menerapkan prokes) juga cukup bagus. Kemudian juga beberapa tempat seperti kafe, restoran itu sudah take away semua,” ungkap Sahrul.

Pria yang juga dikenal sebagai bintang sinetron itu menggunakan berbagai cara saat memberikan himbauan tentang protokol kesehatan. Misalnya dengan cara berkeliling ke sejumlah wilayah dan melalui media sosial.

“Jangan lelah (mengingatkan prokes). Silahkan beraktivitas tapi tolong dijaga prokesnya, kita tentu tidak ingin masyarakat menjadi korban,” katanya.

Di tempat terpisah, salah seorang pemilik Kedai kopi, Heny Hendriyani menuturkan adanya pandemi Covid-19 membuat usahanya mengalami penurunan omset hingga 80 persen. Kondisi tersebut memaksa dirinya mengurangi jumlah karyawan.

“Satu karyawan diberhentikan dan satu orang dirumahkan. Disini ada sepuluh karyawan,” ujar Heny saat ditemui di kedainya, Soreang, Rabu (7/7/2021).

Adanya PPKM darurat yang mewajibkan kedai hingga restoran melayani secara take away, membuat Heny memanfaatkan pemasaran secara online. Namun sayangnya cara tersebut kurang efektif.

“Kalau disini kan menu favoritnya kopi lemon, jadi harus fresh (dinikmatinya),” katanya.

Sebelum ada PPKM darurat, Heny mengaku kondisi usaha mulai berangsur membaik dan ada peningkatan pendapatan. Namun melihat kondisi saat ini, kata Heny, kembali ke nol lagi. Sebagai pelaku usaha, Heny berharap adanya suntikan modal agar bisa bertahan.

“Entah itu modal berjalan, modal operasional anak-anak, gimana caranya supaya bertahan dan anak-anak enggak dikeluarin. Selama ini modalnya dari tabungan sendiri, kedepan akan cari investor untuk bertahan,” tutur Heny.

Loading...

loading...

Feeds