DKPP Jabar Tambah Jumlah Hewan Kurban, Alasannya Begini

PETERNAKAN: Pekerja menggiring sapi di tempat peternakan Kampung Sukamaju, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (5/7). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDYAT/RADAR BANDUNG)

PETERNAKAN: Pekerja menggiring sapi di tempat peternakan Kampung Sukamaju, Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (5/7). (FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jabar memprediksi, jumlah kurban tahun ini mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.


Kepala DKPP Jabar Jafar Ismail mencatat, akan ada kenaikan sekitar 2,7 persen dari jumlah kurban pada tahun 2020 lalu. Diketahui, jumlah kurban pada setahun lalu sebanyak 254.234 ekor. Terdiri dari 76.292 ekor sapi, 590 ekor kerbau, 129.501 ekor domba dan 47.870 kambing.

“Tahun ini berdasarkan survei di kabupaten/kota dan laporan dari daerah, diprediksi akan ada kenaikan sebanyak 2,7 persen jika dibanding tahun 2020. Sehingga diperlukan penambahan hewan kurban, 78.303 ekor sapi, 662 ekor kerbau, 133.033 ekor domba dan kambing sebanyak 49.176 ekor,” ungkap Jafat dalam keterangannya yang diterima Radar Bandung, Rabu (7/7/2021).

Dalam tiga tahun terakhir, kata Jafar, jumlah pemotongan hewan kurban teramati fluktuatif, tercatat pada tahun 2018 jumlah hewan kurban mencapai 241.373 ekor, tahun 2019 naik 37 persen menjadi 331.163 ekor.

“Pada 2020 saat awal pandemi Covid-19 jumlah hewan kurban mengalami penurunan hingga 23,23 persen dibanding tahun 2019 atau 254.234 ekor,” tuturnya.

Guna memenuhi kebutuhan hewan kurban tahun ini, kata Jafar, sebagian besar dipenuhi dari para peternak lokal Jabar. Sedangkan kekurangnnya akan ditambal dari provinsi lain seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur serta NTT dan NTB.

Seperti diketahui, Hari Raya Idul Adha 1442 kini tengah pandemi Covid-19, Jafar pun mengimbau, penyembelihan hewan kurban dan pembagiannya harus mengikuti protokol kesehatan dengan ketat.

Jafar melanjutkan, masyarakat pada umumnya menyembelih dan mengelola daging hewan kurban di halaman masjid, tanah lapang, serta di sekolah, lembaga pemerintah, ataupun swasta.

“Tentunya yang paling baik pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH). Pengecualian untuk keagamaan, maka pemotongan dimungkinnkan di luar RPH, namun tetap patuhi kaidah kesehatan masyarakat dan hewan,” ucap Jafar.

Jafar menuturkan, penerapan prokes saat proses penyembelihan dan pembagian hewan kurban amat penting untuk mencegah munculnya klaster penularan Covid-19.

“Dari hasil evaluasi pelaksanaan kurban tahun 2020, tidak terjadi klaster kurban karena penerapan protokol kesehatan. Tapi, karena adanya peningkatan kasus Covid-19 yang cukup tinggi saat ini menyebabkan perayaan ibadah kurban jadi sangat berisiko. Karenanya, perlu pelaksanaan protokol kesehatan yang sangat ketat,” pungkasnya.

(muh)

Loading...

loading...

Feeds