Kemenag Sampaikan Edaran Perayaan Idul Adha di Kota Bandung

ILUSTRASI

ILUSTRASI

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemerintah telah menetapkan kebijakan PPKM Darurat pada 45 kabupaten kota dengan nilai asesmen 4 dan 76 Kabupaten kota dengan nilai asesmen 3 di Pulau Jawa dan Bali. Kota Bandung termasuk kota yang kini memberlakukan PPKM Darurat.


Sehubungan dengan penerapan PPKM Darurat, Humas Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung, Agus Saprudin sampaikan, Kemenag telah menerbitkan surat edaran terkait pelaksanaan malam takbiran, salat dan kurban Idul Adha tahun ini untuk wilayah yang memberlakukan PPKM Darurat tersebut.

“Edaran yang dimaksud adalah edaran Menteri Agama No SE 17/2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di Tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Idul Adha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kurban Tahun 1442 H/2021 M di Wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat,” kata Agus, Minggu (4/7).

Agus menjelaskan, edaran ini mengatur secara lebih detail teknis pelaksanaan, dari mulai malam takbiran hingga penyembelihan kurban, termasuk terkait peniadaan sementara peribadatan di rumah ibadah pada wilayah yang masuk PPKM Darurat.

Edaran tersebut sebagai bagian dari upaya mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19 yang saat ini mengalami peningkatan dengan munculnya varian baru.

Khusus pada wilayah PPKM Darurat, saat kebijakan berlaku, maka peribadatan di tempat ibadah yang dikelola masyarakat, pemerintah, maupun perusahaan ditiadakan sementara.

Semua kegiatan peribadatan, selama pemberlakuan kebijakan PPKM Darurat dilakukan di rumah masing-masing. Termasuk pelaksanaan takbiran, baik di masjid atau secara keliling juga ditiadakan. Sementara, untuk pelaksanaan kurban dilakukan dengan sejumlah ketentuan prokes yang ketat.

Sebelumnya, Sekretaris MUI Jabar, Rafani juga telah mengimbau terkait peniadaan salat Idul Adha berjamaah di masjid.

“Jadi Salat Idul Adha, MUI sudah memberikan arahan bahwa memang kami meminta supaya ditiadakan (di masjid). Karena apalagi dengan varian baru, varian delta ini cepat penularannya. Jadi ini demi untuk keselamatan semuanya,” ungkapnya.

Selain itu, salat Idul Adha berjamaah, rangkaian ibadah Idul Adha lainnya yang mesti diperhatikan adalah pelaksanaan kurban.

Rafani menyampaikan, pemotongan hewan kurban berpotensi menimbulkan kerumunan. Karena itu, panitia penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha nanti harus berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 setempat dari sekarang.

“Penyembelihan hewan qurban ini juga kan mengundang banyak orang. Kami sudah menekankan panitia harus dari sekarang koordinasi dengan Satgas. Dicari jalan keluar supaya tidak model dulu,” ungkapnya.

Soal anjuran penyembelihan hewan kurban hanya dilakukan di rumah potong hewan, Rafani mengakui bahwa hal tersebut mungkin akan kurang efektif, mengingat antusias masyarakat untuk berkurban dinilai akan tinggi.

“Kalau memungkinkan di rumah potong hewan itu lebih bagus tapi kan kapasitasnya terbatas sedangkan penyembelihan hewan qurban itu massif, banyak, serta orang mengejar keafdolannya yaitu tanggal 10 dari mulai waktu Dzuhur. Jadi, kalaupun mau di potong di tempat biasa silakan tapi prokes harus ketat,” katanya.

Selain itu, Rifani juga mengimbau agar penyembelihan hewan tidak terpusat pada satu tempat saja, melainkan dipecah untuk menghindari kerumunan yang massif.

“Kalau terlalu banyak yang kurbannya sudah jangan semua di situ, di satu tempat. Dipecah. Dibagi tempat, kirim ke daerah mana-daerah mana,” pungkasnya.

(muh/job/salmah)

Loading...

loading...

Feeds