Apindo Jabar Dukung PPKM Darurat 3-20 Juli 2021

Suasana di pusat perdagangan Baltos Bandung, Jalan Taman Sari jelang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3 hingga 20 Juli 2021

Suasana di pusat perdagangan Baltos Bandung, Jalan Taman Sari jelang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat pada 3 hingga 20 Juli 2021

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – PPKM Darurat akan dimulai Sabtu, 3 Juli hingga 20 Juli 2021.


Pada PPKM Darurat, salah satu sektor usaha yang ditutup adalah pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan.

Salah satu pusat perdagangan di Bandung yang menutup kegiatan operasionalnya adalah Balubur Town Square atau Baltos.

Selama 17 hari, pusat tekstil itu meniadakan kegiatan jual beli dan ikuti aturan pemerintah pusat dan kota terkait penanganan Covid-19.

Berdasarkan pantauan, H-1 PPKM Darurat cukup banyak masyarakat yang datang ke Baltos untuk berbelanja. Rata-rata mereka datang membeli kebutuhan sehari-hari, seperti makanan ringan dan pakaian rumah.

Tidak terjadi penumpukan, pihak Baltos masih melakukan pembatasan jumlah kunjungan.

Ketika akan masuk, di pintu masuk satpam akan meminta pengunjung untuk cek suhu tubuh dengan thermo gun, sembari berhitung menggunakan alat khusus. Di dalam, suasana tampak lengang dengan sesekali penjual berteriak, “yook sehari lagi, sehari lagi, besok sudah tutup,” ujar salah seorang pedagang camilan.

Begitu juga dengan Nita, salah seorang penjual pakaian di Baltos itu menuturkan, pihak manajemen Baltos sudah memberikan informasi terkait penerapan PPKM Darurat yang berarti tempat di mana ia mencari nafkah harus ditutup sementara waktu.

“Hari ini terakhir jualan, soalnya besok tutup. Ikut anjuran pemerintah kan katanya ada PPKM Darurat,” kata Nita di Baltos Jalan Taman Sari, Jumat (2/7).

Ia menambahkan, manajemen Baltos sudah memberi surat edaran kepada para tenan dan kios di Baltos terkait penutupan sementara. Hal itu, bisa diterima karena ia cukup takut dengan kondisi seperti sekarang.

“Sudah seram sekarang, apalagi Bandung sudah zona merah, bukan merah lagi kayanya sudah zona hitam. Takut, makanya ya sudah lah ikut saja anjuran pemerintah untuk diam di rumah,” ungkapnya.

Sementara itu, Dewan Pimpinan Provinsi Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPP APINDO) Jawa Barat mendukung keputusan pemerintah pusat dalam penerapan PPKM Darurat untuk pengendalian Covid-19 di Indonesia.

Tidak bisa berbuat apa-apa, mereka berharap kelak pemerintah bisa membantu pengusaha dalam hal mengembalikan perekonomian.

Ketua DPP Apindo Jabar, Neng Wahyu Astutik mengatakan, pihaknya mendukung PPKM Darurat karena hal itu sebagai upaya paling tepat untuk saat ini, di mana kondisi penyebaran Covid-19 sudah terlalu masif.

Menurut Neng, selama pandemi Covid-19 setahun ke belakang, dunia usaha sebenarnya sudah mulai bergeliat.

“Dunia usaha sebenarnya kemarin sudah mulai bounce back, namun apa boleh buat, pasti mengalami perlambatan atau bahkan betul-betul stagnan pada dunia usaha tertentu untuk beberapa waktu ke depan,” kata Neng via Ponsel.

Lebih lanjut, Neng menyebut, saat ini yang paling utama dalam pengendalian Covid-19 adalah percepatan distribusi vaksin untuk masyarakat umum, yang mana di dalamnya termasuk pekerja pelaku usaha.

“Terlebih pekerja padat karya yang memiliki kotak lebih sering dengan pekerja lain, sedangkan mereka menjadi pejuang garis depan untuk ekonomi keluarga,” sambungnya.

Imbas PPKM Darurat, kata Neng pastinya akan sangat menanggung para pengusaha. Maka, ia meminta kepada pemerintah setempat untuk diberikan stimulus demi meringankan beban materi mereka. Stimulus itu bisa dalam hal perpajakan dan lainnya.

“Dengan situasi dunia usaha yang seperti ini, pengusaha menanggung dampak luar biasa, sehingga untuk sedikit meringankannya dibutuhkan stimulus dari pemerintah dalam hal perpajakan, misalnya restrukturisasi pinjaman dan penurunan bunga bank, atau bentuk lainnya,” tandasnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds