50 Kafe dan Restoran di Bandung Terpaksa Rumahkan Karyawan Hingga Tutup Tempat Usaha

Suasana restoran di tengah pandemi Covid-19, para pengunjung diwajibkan mengenakan masker, kecuali sedang makan dan minum. Imbas pandemi Covid-19, Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bandung ini mengaku pandemi Covid-19 sangat berdampak pada bisnis mereka.

Suasana restoran di tengah pandemi Covid-19, para pengunjung diwajibkan mengenakan masker, kecuali sedang makan dan minum. Imbas pandemi Covid-19, Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bandung ini mengaku pandemi Covid-19 sangat berdampak pada bisnis mereka.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pengusaha kafe dan restoran di Kota Bandung menjerit imbas pandemi Covid-19. Terlebih saat ini Bandung sedang menerapkan PPKM karena angka kasus Covid-19 yang tinggi.


Pengusaha kafe dan restoran yang tergabung dalam Asosiasi Kafe dan Restoran (AKAR) – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bandung ini mengaku pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap bisnis mereka.

Ketua AKAR Arif Maulana menuturkan, sejak pandemi Covid-19 ini, kafe dan restoran di Bandung melakukan berbagai cara untuk bertahan dengan tetap mengikuti pemerintah kota. Kebijakan tersebut berdampak pada dirumahkannya para karyawan hingga ditutupnya sejumlah unit usaha.

Berdasarkan survei AKAR, Lutfi mengungkapkan, tercatat 50 kafe dan restoran terdampak cukup berat selama pandemi. Dampaknya mulai dari penurunan bisnis yang signifikan, hingga merumahkan karyawan.

“Tercatat 50 kafe dan restoran menyampaikan penurunan bisnis yang sangat signifikan, beberapa sudah tutup dan memutus hubungan kerja,” ujar Arif, Jumat (25/6/2021).

“Survei ini masih berlangsung dan hasil akhirnya nanti akan dilampirkan dalam surat kepada Pemerintah atau dipresentasikan dalam audiensi,” sambungnya.

Menurut Arif, hal lain yang ditakutkan dari pandemi dan berimbas pada bisnis mereka adalah lamanya waktu pemulihan ekonomi secara makro dan mikro.

Sebagaiman diketahui, kafe dan restoran sebagai elemen pariwisata merupakan penyumbang pendapatan daerah (PAD) terbesar di Kota Bandung.

“Maka dapat dikatakan bahwa elemen pariwisata adalah penggerak roda perekonomian Kota Bandung. Saya khawatir kebijakan ini berdampak pada lamanya waktu pemulihan ekonomi secara makro maupun mikro,” jelasnya.

Maka, AKAR mengusulkan agar dilakukannya revisi terhadap Peraturan Wali Kota Bandung No. 61/2021 tentang PPKM Kota Bandung untuk diselaraskan dengan Surat Edaran Menteri Kordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia tanggal 21 Juni 2021 (HM.4.6/158/SET.M.EKON.3/06/2021) dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 tahun 2021.

“Dimana dalam pelaksanaannya Perwal Kota Bandung berbenturan dengan surat edaran dan instruksi menteri yang disebut sebelumnya, terutama pada poin pelarangan dine in 0% untuk kafe dan restoran di Kota Bandung,” terangnya.

Arif juga mengusulkan agar Pemkot Bandung dapat melibatkan organisasi atau asosiasi mitra pemerintah sebagai objek terkait dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan usaha kafe dan restoran.

Pada sisi lain, dengan program vaksinasi yang sedang digencarkan pemerintah, pihaknya sepakat bahwa vaksin adalah salah satu upaya dalam pencegahan dan pengendalian pandemi Covid-19.

AKAR – PHRI Kota Bandung sendiri mendata ada 11 ribuan karyawan kafe dan restoran yang akan menerima vaksin. Sebelumnya, pada Mei dan Juni lalu sudah digelar vaksinasi kepada 3 ribu karyawan hotel, kafe, restoran, dan insan pariwisata yang dilaksanakan di Trans Luxury Hotel.

“Kami siap diberikan kepercayaan lebih untuk membantu Pemkot Bandung dalam menyelenggarakan dan menuntaskan jumlah vaksinasi baik kepada karyawan restoran sebagai bagian dari pelayanan publik maupun masyarakat umum,” tandasnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds