PPDB Kolektif Diklaim Mampu Kurangi Angka Putus Sekolah

AKTIVITAS: Sejumlah siswa sekolah melakukan aktivitas di luar ruangan. (FOTO:TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

AKTIVITAS: Sejumlah siswa sekolah melakukan aktivitas di luar ruangan. (FOTO:TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Penerapan sistem Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB), secara kolektif dan daring dinilai bisa mengurangi angka putus sekolah.


Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bandung, Juhana mengatakan, telah disediakan 77 kontak pos layanan konsultasi guna mempermudah proses PPDB. Kata Juhana, puluhan kontak tersebut terdapat di sekolah negeri yang berfungsi sebagai sarana memperoleh informasi dan juga sarana pengaduan.

“100 persen optimis lulusan SD, MI, SMP bisa melanjutkan sekolah, karena yang mendaftarkan siswa sekolah, jadi kalau yang ada siswa yang enggak melanjutkan sekolah akan ketahuan. Dengan sistem kolektif ini, optimis siswa bisa seluruhnya melanjutkan sekolah itu tinggi,” ujar Juhana saat dihubungi Radar Bandung, Selasa (22/6/2021).

Ada empat jalur dalam proses PPDB tahun 2021 ini yaitu zonasi, afirmasi, prestasi dan perpindahan tugas. Kata Juhana, dengan adanya PPDB online tersebut membuat calon siswa tidak perlu datang ke sekolah dan hanya perlu mengirimkan dokumen persyaratan kepada operator yang sudah ditunjuk, dan hanya perlu memilih sekolah lanjutan yang dituju.

Baca Juga: Disdik Jabar Rencanakan Sekolah Swasta Ikut Serta PPDB 2021

Meskipun dengan menerapkan sistem kolektif, Juhana menegaskan kegiatan PPDB itu gratis sehingga tidak boleh terjadi pungutan liar.

“Yang memutuskan anak memenuhi syarat dan diterima ini aplikasi bukan sekolah. Kalau disekolah tertentu tidak diterima ya tetap bisa sekolah dengan cara disalurkan ke tempat lain. Jadi enggak ada alasan anak tidak melanjutkan, karena sekolah banyak, baik itu negeri atau swasta itu sama saja,” tutur Juhana.

Baca Juga: Ini Syarat dan Mekanisme PPDB 2021 Kota Bandung

Sementara itu dengan kondisi Kabupaten Bandung yang masuk dalam kategori zona merah resiko penyebaran Covid 19, Juhana memastikan tidak ada sekolah yang beroperasi. Meski demikian, pelayanan sekolah tetap ada.

“Jangan dulu mikir tatap muka, kalau konsep itu sudah siap, ketika tatap muka diperbolehkan sudah siap, panduan teknis tatap muka sudah dipersiapkan, tinggal menunggu pemaparannya turun sampai zona hijau atau kuning baru mulai tatap muka,” pungkas Juhana.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds