Klaster Keluarga Dominasi Penyebaran Covid-19 di Jabar

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Hasil evaluasi dan analisa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, lonjakan kasus Covid-19 diakibatkan mudik yang didominasi klaster keluarga.


Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil berharap fasilitas beserta tenaga kesehatan cukup memadai untuk penanganan pasien Covid-19.

Mantan Wali Kota Bandung ini mengatakan, angka keterisian rumah sakit secara keseluruhan pada saat Idulfitri berada pada angka 29 persen.

Pekan ini, angkanya meningkat 65 persen secara keseluruhan. Pada beberapa rumah sakit daerah angkanya hampir menyentuh 100 persen.

Persiapan yang paling memungkinkan, kata Emil-sapaannya- adalah dengan menambah kasur untuk pasien di rumah sakit untuk menekan angka keterisian pasien Covid-19.

Kalau sudah mentok, opsi hotel dan gedung non pemerintah untuk fasilitas kesehatan dihidupkan lagi.

“Titik terbaik penanganan Covid-19 justru statistiknya pada saat hari salat Idulfitri, kita di 29% BOR rumah sakit, sekarang naik ke 65%. Oleh karena itu dalam kedaruratan ini, tindakan kita adalah menambah kapasitas (tempat pasien) di rumah sakit,” kata Emil di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandar, Senin (14/6).

Emil mengungkapkan, kluster keluarga mendominasi pasien Covid-19 yang diakibatkan mudik Covid-19.

“Jadi walaupun tidak mudik ada kunjungan-kunjungan ke rumah rumah itu ternyata tinggi. Kalau di Jateng yang tinggi itu dari ziarah, dan sekarang lagi luar biasa bahayanya,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan kepada masyarakat untuk bisa membantu penanganan dengan berdisiplin dalam protokol kesehatan.

Apalagi saat ini pemerintah sedang mempercepat jangkauan vaksinasi. Ia mengerti kondisi pandemi yang berkepanjangan membuat sebagain besar masyarakat mengalami kejenuhan.

Jika protokol kesehatan terabaikan, maka peningkatan kasus akan terus terjadi. Kondisi itu akan membuat kebijakan pengetatan bisa dihidupkan kembali. Tempat perekonomian seperti mal bisa ditutup lagi hingga Work from Home (WFH).

“Nah harapannya jangan sampai kita kolaps. Oleh karena itu, jangan jadi korban lagi dengan selalu protokol 5M saja. Semua juga sudah jenuh, semua juga sudah bosan tapi kalau nanti terjadi kedaruratan yang dirugikan kita juga,” terangnya.

“(Kalau tidak taat protokol kesehatan) Kita harus WFH lagi dari rumah, mall ditutup lagi jam operasional, jalan-jalan dan sebagainya. Kita tidak menginginkan itu menjadi berkepanjangan. Makanya bantulah penanganan ini dengan 5M tadi, plus kita lagi mengakselerasi vaksinasi,” tandasnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds