Dalam Sangkar Tabrak Batasan Daya Material Seni Lukis 

KRYA SENI: Pengunjung sedang melihat karya pada pameran tunggal Evi Pangestu yang bertajuk 'Dalam Sangkar' atau 'Within Square', di Ruang Dini, Jalan Anggrek, Jum'at (11/6). (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

KRYA SENI: Pengunjung sedang melihat karya pada pameran tunggal Evi Pangestu yang bertajuk 'Dalam Sangkar' atau 'Within Square', di Ruang Dini, Jalan Anggrek, Jum'at (11/6). (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Eksplorasi karya seni abstrak ditampilkan pada pameran tunggal Evi Pangestu. Mengusung tema ‘Dalam Sangkar’ atau ‘Within Square’, Evi menampilkan karya lukis terbaru dari seri abstrak yang berjudul ‘Structure Control’ (2020-2021). Pameran ‘Dalam Sangkar’ berlangsung di Ruang Dini, Jalan Anggrek, 28 Mei-27 Juni 2021.


Pada catatan kuratorial, kurator Gesyada Siregar mengungkapkan, seri lukisan ini merupakan hasil investigasi akan batasan daya material seni lukis versus teknik kepelukisan demi mencapai bentuk bujur sangkar yang sempurna. Setiap kerangka spanram karya ini memiliki penambahan dan pengurangan struktur kayu yang tersembunyi di belakang kanvas.

Akan tetapi, kata Gesyada, tiap-tiap lekuk dan sudutnya muncul di sana-sini sebagai perlawanan-perlawanan yang membentur bentangan kanvas. Kontak tunggal yang tampak menyala dari pulasan cat akrilik kuning neon menjadi pengontrol dari seluruh semesta kanvas, memastikan dampak-dampak dari struktur terselubung tidak mengubah keutuhan bujur sangkar.

“Jejak interaksi material dalam seri lukisan ini mengajak kita untuk menelisik tentang apa yang tersurat, tersirat, dan tersuruk dalam cara melihat kita sekarang ini yang tak terhindarkan dari bingkai berbentuk kotak,” tutur Gesyada.

Dalam perjalanan kekaryaannya, Evi mencoba menyelidiki tentang pemberontakan dan kontrol dalam batas konvensi seni lukis. Penemuan dia lewat seri abstrak ini juga merupakan pembebasan dirinya akan kungkungan seni lukis figuratif berwarna-warni yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Dengan warna kuningnya yang mencolok serta para struktur kayu yang mencoba menyeruak di kanvas, tak terhindarkan untuk merasakan pemanusiaan bahwa lukisan-lukisan ini seolah berteriak dan berbisik kepada penikmat dengan situasi rupanya.

Struktur tambahan kanvas yang masuk ke dalam dan ke luar menghasilkan komposisi visual yang menegangkan, baik secara ragawi kanvas tersebut maupun secara psikis bagi yang melihat.

Di tengah studi master di Royal Collage of Art atau RCA, London (2017-2019), Evi merasakan bahwa berbagai teori warna yang sempat menjadi acuan dia kelamaan membudaki cara berpikirnya untuk melukis. Walaupun mengaku bahwa dulunya dia merupakan orang yang skeptis dengan lukisan abstrak, ia kemudian menyadari bahwa bentuk non-figuratif memungkinkan penciptaan karya yang tidak perlu terjebak dengan persoalan tematis atau isu tertentu.

Baca Juga: Edukasi Isu Lingkungan Melalui Seni Lukis

Menurut Gesyada, eksperimen Evi akan bentuk non-figuratif mengantarkan dia pada penjelajahan bentuk dan komposisi kotak dalam seni lukis. Dalam proses pembuatan seni Structure Control ini, sesuai menyusun dan memodifikasi balok kayu pada kerangka spanram, Evi membentangkan kanvas mentah dengan limitasi ketegangan yang bisa dicapai dengan tenaganya.

Setelah semua ujung kanvas paten di empat sisinya, barulah dia menyapukan gesso (cat pelapis kanvas) ke seluruh permukaan agar lapisan dapat mengikuti relief struktur. Pada hakikatnya, satu lukisan tidak akan pernah sama sekalipun dibuat dengan material dan cara yang persis.

Baca Juga: Hipmi Jabar Menangkan Lelang Lukisan Karya Ridwan Kamil untuk Seniman

Keberagaman jenis cat yang dipakai menaksir bentuk kejujuran material dalam kekaryaan Evi. Untuk mencapai blok warna yang konkret, Evi menggunakan rol ketimbang kuas untuk menyapukan cat. Evi menyukai kerataan tekstur yang dihasilkan dari rol, yang juga menyerupai cara mewarnai dengan spidol berujung pipih.

Warna kuning neon dari bujur sangkar memang diniatkan seperti spidol penerang yang sering digunakan untuk menandai teks di buku. “Menelusuri satu dekade ke belakang, kekaryaan Evi serumpun dengan kecenderungan seni lukis abstrak kontemporer yang menciptakan rupa tidak hanya cat, tapi juga dengan aspek pembentuk lukisan seperti kanvas dan spanramnya,” terangnya.

“Evi percaya bahwa seni lukis masih memiliki umur panjang untuk terus ditelusuri, sehingga ia tidak akan mati,” tandasnya.

(fid)

Loading...

loading...

Feeds