Harga Kedelai Tembus Rp12 Ribu per Kg di Kabupaten Bandung

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com, SOREANG – Akibat harga kedelai yang terus melonjak membuat produsen dan pedagang tahu pada sejumlah pasar di Kabupaten Bandung melakukan mogok.


Aksi mogok menyusul adanya surat edaran (SE) Paguyuban Tahu Tempe Jawa Barat terkait kesepakatan mogok massal para produsen dan pedagang tahu dan tempe lakukan mulai Jumat (28/5) hingga Minggu (30/5).

Dalam SE itu, tertulis kesepakatan menaikkan harga penjualan tahu 15-25%.

Salah seorang produsen tahu di Cangkuang, Dasep Sudarisman (40) mengatakan tak semua produsen ataupun pedagang tahu akan berhenti berjualan.

Ia katakan, yang akan mogok berjualan hanyalah pedagang di Pasar Banjaran, Pasar Dayeuhkolot, Pasar Ciparay dan Pasar Majalaya. Sementara untuk Pasar Soreang, pedagang berjualan seperti biasa.

“Para pedagang tahu di Pasar Soreang sudah menaikkan harga tahu sejak awal kenaikan harga kedelai beberapa bulan lalu, sehingga kali ini merasa tidak perlu menaikkan lagi harga barang dagangannya,” ujar Dasep, Kamis (27/5).

Kata Dasep, harga tahu di Pasar Soreang sudah naik Rp500 sampai Rp600 per buah. Sementara di Pasar Banjaran, harganya hanya Rp350-Rp400. Dasep mengungkapkan bahwa di Kecamatan Cangkuang ada 40 pabrik tahu dan hanya sebagian kecilnya saja yang akan melakukan mogok produksi.

“Itupun karena memang pedagang tahu yang biasa disuplainya tidak akan berjualan. Kalau saya mah akan tetap produksi, kan cuma ngirim ke Pasar Soreang aja,” jelas Dasep.

Saat ini, ungkap Dasep, harga kedelai mencapai Rp11 ribu-Rp12 ribu/kg. Hal itu membuat Dasep tidak mendapat keuntungan. Namun ia tetap bersyukur karena masih ada penghasilan untuk kebutuhan hidup dan biaya produksi.

Ia berharap pemerintah bisa segera menemukan solusi untuk mengatasi kenaikan harga kedelai tersebut.

Sementara itu, Ketua Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (Kopti) Kabupaten Bandung, Ghufron mengatakan belum memeroleh instruksi dari Kopti pusat.

Ia tegaskan, jika sekiranya tidak ada perintah mogok maka tidak akan dilakukan. “Cuma di luar Kopti, ada di paguyuban minta mogok, kalau saya kan lebih struktural, kalau sekiranya pimpinan saya tidak menginstruksikan, saya tidak melakukan,” ujar Ghufron.

Kenaikan harga kedelai ini cukup signifikan yaitu 40 persen, terjadi sejak Oktober 2020.

Apalagi usai lebaran, harga kedelai mengalami kenaikan yang luar biasanya. Ghufron menjelaskan bahwa harga kedelai saat normal itu Rp9.500/kg, namun saat ini sudah mencapai Rp11 ribu/kg.

Ghufron yang juga merupakan pengusaha tempe itu mengaku bisa menghabiskan 8 kwintal kedelai/hari. Dengan adanya kenaikan harga kedelai, Ghufron mengungkapkan biasanya pengusaha tahu dan tempe menyiasatinya dengan mengecilkan ukurannya atau menaikkan harganya.

Masalah kenaikan harga kedelai ini, tutur Ghufron, sudah dikoordinasikan dengan pemerintah bahkan sudah masuk ke meja presiden.

Untuk penyebab kenaikan harga, masih simpang siur.

“Mau tidak mau dikembalikan lagi ke tata niaga artinya dikembalikan lagi ke Bulog sama Kopti, karena ini kan mekanisme pasar global, jadi harga diatur sama kartel, importir. Harapannya, minimal ada stabilitas harga, jadi harga mau dipatok berapapun tapi tidak naik turun,” pungkas Ghufron.

(fik)

Loading...

loading...

Feeds