Walau Pandemi, Kredit Perbankan di Jabar Triwulan 1 Tumbuh Positif

POJOKBANDUNG.id, BANDUNG – Di tengah pandemi Covid-19, penyaluran kredit perbankan di Jawa Barat pada triwulan-1 2021 tumbuh positif. Kenaikan tersebut salah satunya dikarenakan kebijakan pemerintah yang melarang mudik lebaran.


Tercatat saat ini angka kredit macet untuk perbankan di Jabar berada di level 4,23 persen, atau naik dari posisi Februari di angka 4,13 persen. Meski demikian, penyaluran kredit hingga Februari 2021 tumbuh mencapai 4,70 persen secara tahunan.
“Jadi harus diwaspadai masih tingginya nilai NPL (Non Performing Loan/kredit macet) padahal pandemik ini masih berlangsung. Kita juga belum tahun setelah lebaran ini sepert apa pandemik karena ada pembatasan mudik juga kan,” ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 2 Jawa Barat, Indarto Budiwitono saat media update OJK KR 2 Jabar dan Forum Diskusi Wartawan Bandung (FDWB),
Menurutnya, kenaikan NPL ini bisa dikarenakan karena perekonomian tidak berkembang karena perputaran uang seidkit terhambat efek larangan mudik. Di sisi lain, NPL ini bisa disumbang dari sektor jasa transportasi yang sampai sekarang ini belum optimal dalam mengangkut penumpang.
Sedangkan, untuk kondisi perbankan syariah, kata Indarto, penggunaan dana dari lembaga keuangan di Jabar naik sembilan persen. Pertumbuhan kredit Perbankan Syariah di Jabar tinggi mencapai 7,34 persen (yoy), lebih tinggi dibanding rata-rata perbankan Jabar yang tumbuh 5,46 persen.
“Dari segi NPF (kredit macet bank syariah) juga lebih terjaga pada level 3,41 persen,” katanya.
Menurut dia, saat ini terdapat beberapa strategi yang dilakukan oleh perbankan termasuk OJK. Pertama, membangun ekosistem keuangan syariah terintegrasi melalui pemberdayaan ekonomi umat, dan digitalisasi keuangan syariah.
Kemudian, mewujudkan bank syariah berskala besar melalui penggabungan tiga bank syariah BUMN dan mengembangkan produk layanan bank syariah. “Kita juga coba memperluas akses pemasaran industri halal melalui perluasan instrumen industri halal dan platform digital,” paparnya.
Khusus untuk pembiayaan, Indarto menyebut bahwa secara nasional nilainya justru minus 3,77 persen (yoy). Dari angka tersebut, 47 persen pembiayaan nasional masih terpusat di DKI Jakarta.
“Namun per Maret 2021 pembiayaan Perbankan DKI Jakarta juga terkontraksi hingga minus 10,24 persen,” sebutnya.
Indarto mengungkapkan, khusus pembiayaan perbankan di Jabar, masih mampu tumbuh positif sebesar 5,80 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan tujuh provinsi lainnya sebagai penyumbang pembiayaan perbankan terbesar nasional.
Indarto menjelaskan, dari total pembiayaan yang disalurkan tersebut sekitar 24,2 persen terserap untuk kepemilikan rumah tangga, kemudian perdagangan (18,4 persen), serta pembiayaan multiguna (17,15 persen). Penyaluran pembiayaan di Jabar didominasi pembiayaan Bank Buku IV senilai Rp256 triliun.
Sedangkan dari sisi sektor lainnya, yakni sektor transportasi, jasa pengiriman, dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 57 persen. Katanya, hal ini didorong meningkatnya jual beli online dan penerapan work from home yang menggantungkan jaringan komunikasi internet.
(fid)

Loading...

loading...

Feeds