Dilema Pemilik Kafe di Bandung Ditarik Royalti Lagu

“Masih lieur (pusing). Kafe kan skalanya beda ya, ada kafe besar atau kecil, nah apakah itu ada ukurannya atau tidak. Kan kasian juga kalau kafe skala kecil ala-ala barudak (anak-anak) disuruh harus bayar,” katanya.


“Oke kalau misal minimarket masuk akal disuruh bayar royalti. Banyak teman yang buka kafe skala kecil, saya tahu gimana pusingnya,” pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang pemilik kedai kopi di Kabupaten Bandung, Heny Hendriyani (35) mengatakan keberatan dengan aturan pembayaran royalti. Dibandingkan untuk membayar lagu, lebih baik, ia katakan, untuk membayar biaya operasional.

“Engga setuju, kan lagu itu diciptakan untuk semua orang, kalau kita mau nyanyi mau happy, terus harus memberikan royalti, lucu banget. Ya sudah semua orang ciptain lagu sendiri saja,” ujarnya.

Heny mengungkapkan karena ada pandemi Covid-19 ini, pendapatannya berkurang. Meski demikian, wanita 35 tahun tetap bersyukur karena masih bisa survive atau bertahan dan masih bisa membayar gaji karyawan. “Di kedai kopi biasanya harus ada musiknya,” tegas Heny.

Saat ini, ungkap Heny, bisnis kedai kopi tengah banyak peminatnya. Dengan adanya musik di dalam kedai kopi, itu bisa meningkatkan nilai dari kedai kopi itu sendiri. Jadi pelanggan bisa menikmati kopi sambil mendengarkan musik. Kata Heny, pelanggan yang datang ke kedainya dikisaran umur 30 tahunan.

“Harapannya buat pemerintah sebenarnya untuk kedai kopi lagi bagus dengan ada live musiknya justru menambah nilai, sehingga bisa lebih menggerakan perekonomian. Semoga banyak kedai kopi lainnya,” pungkas Heny.

(muh/fik)

Loading...

loading...

Feeds