Kecanduan Gawai Gegara Pelajaran Jarak Jauh

DIDAMPINGI: Siswa didampingi orang tua saat melaksanakan pembelajaran jarak jauh di Tamansari Atas, Kota Bandung, Selasa (9/3/2021) (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

DIDAMPINGI: Siswa didampingi orang tua saat melaksanakan pembelajaran jarak jauh di Tamansari Atas, Kota Bandung, Selasa (9/3/2021) (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengimbau orang tua untuk senantiasa memantau anak saat menggunakan gawai. Musababnya, selain bisa mengakibatkan kecanduan juga bisa berdampak pada sikologis anak.


“Anak sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermain gawai, merupakan satu konsekuensi dari kebijakan yang dikeluarkan pemerintah,” ujar Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana, kepada wartawan, Senin, (22/3/2021).

Seperti diketahui, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, pelajaran yang disampaikan dilakukan dari jarak jauh menggunakan gawai. Kebijakan itu berdampak pada anak jadi lebih sering beraktivitas dengan menggunakan gawai.

“Ya mau bagaimana lagi,” kata Yana.

Yana mengatakan, Pemkot Bandung hanya bisa memberikan himbauan agar orang tua bisa mengawasi anaknya, sehingga mereka hanya menggunakan gawai ketika dibutuhkan saja.
Meski demikian, Yana mengakui, tidak mudah mengawasi anak agar menggunakan gawai seperlunya.

“Tidak semua orang tua bisa memantau aktifitas anaknya di rumah. Ketika mereka menggunakan gawai, kan orang tuanya sedang bekerja, jadi waktunya bentrok. Ya kalau ada yang beruntung bisa dipantau orang tua nya. Kalau tidak ya mereka beraktifitas sendiri,” katanya.

Di sini lain, Yana juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung untuk bisa memberikan dan menyampaikan materi dengan lebih beragam. Agar anak-anak tidak bosan dengan pembelajaran jarak jauh.

“Walaupun memang pada akhirnya, mereka tetap akan menggunakan gawai. Tapi setidaknya, harus dengan pola yang baik,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pangan dan Pertanian ( Dispangtan) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan, ketertarikan anak-anak di terhadap gawai menghambat program chikenisasi.

“Kemarin pada tahap pertama, sebetulnya sudah kita siapkan untuk tahap berikutnya. Namun ketika mau digulirkan malah pandemi, jadi sulit untuk mengkoordinasikan dengan anak-anak karena harus ada pendampingan dan sosialisasi,” kata Gin Gin.

Gin Gin juga akan kembali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung untuk membahas keberlanjutan program tersebut.

“Kita koordinasikan sama Disdik, sementara Disdik menunda dulu, padahal dari sisi chicken atau DOC sudah kita siapkan. Enggak tahu pas nanti normal kembali pas tatap muka (dilanjutkan lagi),” ujarnya.

Meski program ini terkendala karena pandemi Covid-19, Gin Gin menyebut DOC untuk program ini digunakan di program Urban Farming yang dimana DOC tersebut disalurkan langsung kepada warga.

“DOC kita kemarin siapkan indukan, sudah banyak DOC, cukup untuk anak sekolah. Karena ditunda, DOC nya diberikan kepada kelompok Urban Farming dan Buruan Sae,” jelasnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds