Setelah Hakekok, Ditemukan Aliran Blokosuto di Bogor

DIAMANKAN: Polisi mengamankan 16 pengikut aliran Hakekekok di Pandeglang Banten. (foto: IST)

DIAMANKAN: Polisi mengamankan 16 pengikut aliran Hakekekok di Pandeglang Banten. (foto: IST)

POJOKBANDUNG.com, BOGOR – Dari hasil penelusuran kasus aliran Hakekok, polisi malah menemukan aliran Blokosuto di Desa Leuweung Kolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Belum diketahui adanya keterkaitan antara kedua aliran yang dianggap sesat tersebut.


Hal itu disampaikan Camat Cibungbulang, Yudi Nurzaman melalui keterangan resminya.

“Kelompok Blokosuto yang dipimpinan oleh ES diduga aliran sesat dikarenakan salah satu ajarannya tidak mewajibkan shalat lima waktu,” ujarnya.

Saat ini, kata Yudi, kelompok tersebut mengontrak di sebuah rumah di Desa Leuweung Kolot. Letak bangunan rumah tersebut berada di pinggir jalan desa dan dikelilingi pesawahan. Dari informasi yang dihimpunnya, di rumah tersebut terdapat barang-barang antik dan lukisan-lukisan tokoh mistik seperti Nyi Roro Kidul dan Presiden Soekarno.

Di rumah itu pun terdapat kolam air dan pendopo. Acapkali rumah tersebut didatangi puluhan orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Banten di kota – kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurut Yudi, keberadaan kelompok Blokosuto itu berawal dari wilayah Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

“Kepindahan ke rumah tersebut dikarenakan permasalahan di tempat yang sebelumnya bahwa kelompok Blokosuto tersebut tidak membayar sewa rumah atau kontrak rumah di lokasi sebelumnya,” terangnya.

Pasca kasus diamankannya 16 orang pria dan wanita hingga anak-anak yang sedang mengadakan ritual mandi telanjang di penampungan air PT GAL di Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, tersebar kabar bahwa aliran Hakekok itu berasal dari wilayah Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Dari hasil penyelidikan tersebut, aparat menemukan informasi bahwa sekitar tahun 1990-an aliran Hakekok pernah ada namun bukan di wilayah Kecamatan Cibungbulang, melainkan pernah ada di sekitar wilayah Cisalada, Kecamatan Ciampea.

“Dahulu dikenal dengan sebutan agama Hakok yang mengajarkan mandi telanjang secara bersama-sama pria dan wanita sebagai sarana pembersihan diri dari dosa dan membolehkan bertukar pasangan,” tandas Yudi.

(cok)

Loading...

loading...

Feeds