April, Harga Cabai Diperkirakan Turun

AKTIVITAS: Suasana aktivitas jual beli di pasar di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jumat (12/3/2021) (foto: MOCHAMMAD DIKDIK R ARIPIANTO/ RADAR BANDUNG)

AKTIVITAS: Suasana aktivitas jual beli di pasar di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jumat (12/3/2021) (foto: MOCHAMMAD DIKDIK R ARIPIANTO/ RADAR BANDUNG)

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung memprediksi, harga cabai rawit merah dan kriting bakal turun pada pertengahan April 2021. Hal itu dikarenakan akan ada panen raya pada waktu tersebut.


“Diperkirakan akan ada panen raya pada akhir Maret sampai awal April, sehingga pada pertengahan April atau menjelang Ramadhan, harga cabe akan turun,” ujar Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, Elly Wasliah, kepada wartawan Senin (15/3/2021).

Berdasarkan data Disdagin, harga cabe rawit, cabe merah tanjung dan cabe merah kriting di delapan pasar Kota Bandung masih relatif tinggi.
Pada Jumat (12/3/2021) harga cabe rawit masih Rp110 ribu-Rp120 ribu perkilogram, untuk harga cabe rawit ini, menurut Elly tidak ada patokan harga eceran tertinggi (HET), karena bukan komoditas pangan utama.

Hal ini berbeda dengan cabe merah tanjung yang memiliki HET Rp35 ribu, namun harga di pasaran Rp70 ribu, demikian juga dengan harga cabe keriting yang juga Rp70 ribu, sedangkan HET sebesar Rp35 ribu.

“Kenaikan ini, dipicu cuaca yang dan telat panen di hampir seluruh daerah produsen. Kalau menanam saja terlambat, jadi ya waktu panennya juga telat,” terang Elly.

Elly berharap, saat Idul Fitri nanti tidak ada kenaikan harga cabe lagi.

“Kalaupun ada, ya yang wajar-wajar saja lah. mudah-mudahan tidak ada kenaikan yang berarti,” tuturnya.

Selain harga cabe, komodiiti yang juga mengalami kenaikan adalah harga bawang merah. Dari HET Rp32 ribu, harga yang di pasaran Rp38.500 perkilogram. Namun, komoditi lainnya tidak mengalami kenaikan yang signifikan.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan cabe, Pemkot Bandung memiliki program Buruan SAE. Program tersebut memanfaatkan sempitnya lahan untuk menanam beberapa tanaman yang biasa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, beberapa kelompok buruan SAE sudah bisa menjual ke supermarket.

“Karena kebutuhan rumah tangga mereka sudah terpenuhi, maka ada beberapa kelompok buruan SAE, yang menjual hasil panennya ke super market,” jelas Gin Gin.

Dalam kondisi seperti ini, Gin Gin mengajak warga Kota Bandung untuk banyak bercocok tanam di halaman rumahnya.

“Untuk bercocok tanam, tidak harus mengunakan halaman yang luas, karena menanam nya bisa di dalam polybag,” jelasnya.

Meskipun Gin Gin mengakui, dalam musim penghujan seperti ini, memang sulit menanam sayuran jenis cabe. karena, air bisa menyebabkan tanaman cepat busuk.

“Makanya, banyak petani yang memanen cabe nya meskipun belum waktunya dipanen,” jelasnya.

(mur)

Loading...

loading...

Feeds