Polemik Vaksin Nusantara, BPOM dan Terawan Belum Temukan Titik Temu

POJOKBANDUNG.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) versus mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto berpolemik soal Vaksin Nusantara. BPOM menilai vaksin dengan metode dendritik tersebut belum melalui proses ilmiah. Sedangkan Terawan meyakini bahwa vaksin tersebut sudah melalui uji coba pada hewan di Amerika Serikat dan sejumlah rumah sakit di Indonesia.


Kepala BPOM Penny K Lukito menjelaskan BPOM melakukan pengawalan pada pengembangan Vaksin Nusantara. Bahwa ada rencana pertemuan panel hearing terkait vaksin dendritik antara tim peneliti dan ahlinya, yakni komnas penilai obat dari BPOM bersama expert panel baik dari ITAGI, komnas penilai obat, ahli farmakologi, biomolekuler.

“Informasi uji fase I, ada catatan terkait komite etik, meskipun persetujuan etik bersifat universal di mana saja berlaku. Haruslah bertanggung jawab dengan uji klinis terutama keselamatan subjek penelitian,” tegas Penny.

Penny menegaskan, sangat mendukung penelitian apapun. Apalagi dalam negeri. Namun, menurutnya, BPOM harus memastikan semua penelitian itu betul-betul aman. “BPOM akan transparan, kami tidak punya kepentingan menutupi apapun. Tapi ini proses yang berbasis scientific saya kira perlu ditempatkan di dalam forum yang scientific juga, kami hormati etika penelitian sehingga kami ingin selesaikan dulu tahapan penelitian peneliti tersebut dalam evaluasi yang diberikan BPOM,” tegasnya baru-baru ini di DPR. “BPOM mendukung penelitian obat dan vaksin dalam kemandirian di bidang farmasi utk percepatan akses dan ketersediaan obat dan vaksin yang dibutuhkan dalam masa pandemi untuk menghasilkan produk obat dan vaksin yang aman, berkhasiat dan bermutu maka seluruh tahapan dan pengembangan harus sesuai dengan standar dan persyaratan,” katanya.

Penny menegaskan BPOM mengikuti kaidah penelitian agar menyelesaikan dulu dengan tim penelitinya. Dalam tahapan tersebut pihaknya sudah melakukan review dari laporan mid term yang diberikan tim peneliti fase I. Lalu sudah dikirimkan kembali untuk melakukan percepatan data terkait aspek keamanan dan efikasi.

“Imunogenisitas yang jadi pertanyaan. Pada saat pertama perumusan protokol, suatu yang sudah jadi kaidah pelaksanaan uji klinik dari obat atau vaksin tahapan praklinis, tahapan etika. Jangan sampai memaparkan pada manusia suatu produk yang belum terjamin keamanannya,” tutur Penny.

Sedangkan penggagas Vaksin Nusantara, Terawan Agus Putranto menegaskan bahwa uji tersebut tak dilakukan di dalam negeri, tetapi di Amerika Serikat.  “Saya sudah WA-kan hasil uji praklinis kepada binatang soal keamanan vaksin dan efikasi yang sudah dilakukan oleh pihak ketiga di AS. Maka kami nggak lakukan lagi di Indonesia karena sudah dikerjakan itu. Hasilnya ada, akan dikirimkan,” katanya. Vaksin Nusantara diklaim oleh Terawan sebagai vaksin yang aman bagi lansia dan kelompok komorbid. Artinya tak ada efek samping yang signifikan.

(jpg)

Loading...

loading...

Feeds

Cara Memperbarui Whatsapp GB

POJOKBANDUNG.com–DENGAN menggunakan whatsapp GB tentu akan mendapatkan banyak fitur yang tidak di miliki whatsapp resmi. Pengguna dapat menginstalnya melalui berbagai …